Monday, May 1, 2017

Pendidikan dan Kebudayaan untuk Revolusi Karakter Bangsa dan Kebhinekaan

Pendidikan Dan Kebudayaan Untuk Revolusi Karakter Bangsa Dan Kebhinekaan


            Secara garis besar, pendidikan merupakan proses pembelajaran akan aneka ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh melalui lembaga formal maupun informal. Lembaga formal yaitu melalui pendidikan formal yang diperoleh secara sistematis dan berjenjang, yaitu dari tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi. Sedangkan pendidikan yang didapat secara informal bisa saja diperoleh dari pelatihan, kursus, lingkungan keluarga ataupun secara otodidak yang salah satunya dapat diperoleh berdasarkan pengalaman hidup. Pendidikan di Indonesia sudah menjadi hal yang krusial sejak masa penjajahan. Dimana dalam perkembangannya, Indonesia telah sangat berani mensejajarkan pendidikan kolonial dengan didirikannya sekolah bersistem nasional yang diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya digagas oleh Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, yaitu sekolah nasional Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1922.
            Bangsa Indonesia sejak dulu kala memegang teguh bahwa pendidikan pada hakikatnya tidak boleh lepas dari aspek nilai-nilai kebudayaan. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pendidikan telah merupakan satu kesatuan yang utuh dengan budaya bangsa, yang diharapkan mampu mewujudnyatakan cerminan masyarakat yang berkepribadian beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan. Dengan kata lain, pendidikan sebagai alat transfer pengetahuan haruslah mampu memberdayakan atau melestarikan budaya nasional karena di dalamnya terdapat nilai moral yang mengacu pada ideologi (pandangan hidup) dan cita-cita bangsa dalam mempertahankan kedaulatan. Pada proses pembangunan di Indonesia, pendidikan terus mengalami perubahan (transformasi) seiring dengan perkembangan budaya, yang diharapkan dapat mengacu pada hal yang positif yang pastinya ke arah yang lebih baik.
            Proses transformasi struktural yang terus berevolusi di Indonesia salah satunya  melalui saluran pendidikan yang merupakan motor penggerak utama dalam proses pembangunan ekonomi. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah orang yang berpendidikan tinggi sehingga memungkinkan mendapatkan pendapatan yang lebih baik. Selain itu, dengan adanya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan yang banyak diusahakan oleh pemerintah dewasa ini yaitu diantaranya dengan memperluas sarana pelatihan keterampilan, baik secara teknis maupun nonteknis (softskils) dalam rangka pengembangan karakter untuk membangun perilaku individu yang tepat (disiplin, kerjasama, kepemimpinan, kemandirian, dan lain sebagainya), maka otomatis akan meningkatkan pula struktur kebudayaan nasional. Terlebih lagi dengan kenyataan adanya peningkatan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat tiap tahunnya, jika tidak diiringi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), maka Indonesia dipastikan akan semakin mengalami kemiskinan, tingkat pengangguran yang tinggi dan adanya ketimpangan pendapatan.
            Pemerataan pembangunan untuk pengentasan kemiskinan yang sedang digalakkan pemerintah melalui saluran pendidikan, diantaranya pemerintah berusaha memberikan akomodasi bagi masyarakat baik perkotaan maupun daerah pedalaman untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya perbaikan dan penambahan gedung sekolah, bahkan pemerintah mengusahakan masyakarat yang tidak mampu untuk juga dapat memperoleh kebutuhan pendidikan yang merata secara gratis. Hal ini diupayakan pemerintah untuk memasuki globalisasi yang semakin berkembang dan mempersiapkan generasi muda untuk dapat bersaing secara internasional. Kemajuan pendidikan Indonesia juga dapat kita lihat dari banyaknya sekolah-sekolah yang bertaraf internasional. Dengan kata lain, Indonesia mulai semakin terbuka dengan informasi ataupun pengetahuan baru yang berasal dari luar, sehingga mau tidak mau Indonesia juga turut mengalami transfer budaya. Adanya transfer budaya dalam hal ini mengakibatkan masuknya pengaruh budaya asing merupakan hal yang cukup dilematis bagi Indonesia. Di satu sisi, adanya transfer budaya akan menambah pengetahuan yang lebih ‘memodernisasi’ atau memajukan masyarakat, namun di sisi yang lain, hal ini juga dikhawatirkan dapat mengaburkan idealis budaya nasional yang menjadi karakter bangsa.
            Perkembangan budaya nasional yang saling berhubungan dengan pendidikan memang sudah seharusnya mendapat perhatian lebih dari masyarakat, baik pemerintah maupun kita sebagai warga negara Indonesia. Pendidikan yang mencerminkan budaya bangsa harus mampu menumbuhkembangkan potensi-potensi yang sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat. Sehingga, revolusi karakter yang terbentuk merupakan karakter pemersatu yang semakin cinta akan tanah air dan memiliki semangat serta tujuan yang semata-mata untuk kemajuan pembangunan bangsa. Sekalipun semakin meluasnya pengaruh globalisasi, kita harus tetap memiliki kesadaran penuh untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang sudah susah payah diperjuangkan oleh nenek moyang kita sejak jaman perjuangan kemerdekaan. Indonesia jangan sampai ‘kebablasan’ dalam menerima transfer budaya dari asing yang masuk melalui pengetahuan pendidikan yang dapat mengkontaminasi secara negatif karakter bangsa, apalagi yang dapat memecah-belah keragaman Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Karena pada dasarnya kitalah yang harus menguasai globalisasi bukan globalisasi yang menguasai kita. Artinya, pengaruh globalisasi harus tetap di bawah kendali kita sebagai bangsa yang memiliki ideologi dan bermartabat yang mencerminkan Pancasila sebagai dasar negara.

Monday, 010517

       Menghabiskan waktu seharian dengan menulis sambil minum teh adalah hal yang menyenangkan  bagiku. Dalam kesendirianku, aku terbiasa bermain-main dengan pikiranku, memikirkan banyak hal sampai mengkhayalkan mimpi terbesarku. Sebuah mimpi yang mungkin terlihat mustahil, namun sangatlah indah. Aku membayangkan diriku saat aku menerima pengakuan dari banyak orang atas karyaku. Membayangkan banyaknya manfaat dan nilai positif yang dapat aku hasilkan dari hidupku untuk orang lain. Membayangkan tulisan-tulisanku akan tetap dibaca dan dikenang banyak orang sekalipun ragaku telah merenta bahkan mati. Membayangkan aku bisa memuaskan hasratku untuk membangun rumah yang indah untuk aku dan orangtuaku. Membayangkan aku dapat membangun bisnis keluarga sendiri, sehingga adik-adikku, kakakku, kami semua tidak perlu lagi merasakan luntang-lantung dan berpencar merantau hanya untuk mencukupi biaya hidup. Membayangkan aku bisa membahagiakan orangtuaku, sehingga mama tidak perlu lagi berambisi untuk keluar dari kesusahan yang menghantuinya sejak kecil, dan papa, tidak perlu lagi bersusah untuk berjerih payah mengurusi warung kecil kami yang penghasilannya hanya cukup untuk makan mereka sehari-hari. Membayangkan, aku bisa membawa serta keluarga besarku untuk berkunjung ke Holy Land. Waw luar biasa, bukan..?! Bagiku atau mungkin bagi banyak orang, ini adalah khayalan terindah. Dan aku rela membiarkan otakku bekerja seharian terlena untuk mencari tahu bagaimana tahap demi tahap sehingga aku bisa dekat dengan mimpi-mimpi terindahku itu.
            Di penghujung hari aku membenamkan lamunanku. Kadang aku menitikkan air mata, kadang juga aku tertawa sendiri. Apakah mimpi ini terlalu tinggi untuk aku raih bagi seorang aku yang tidak terlalu pandai dan tidak memiliki pengetahuan yang banyak dalam menulis? Aku menulis hanya untuk menyenangkan hari-hariku yang sepi. Menulis bagiku teman bicara yang paling efektif dalam mengusir kesadaranku akan rasa sepi yang menjangkitiku bertahun-tahun. Bahkan aku sendiri ragu akankah ada orang yang dengan setia mendengarkan ceritaku, membaca tulisanku yang datar. Dulu.. Sangat dulu sekali, ada seseorang yang aku selalu ingat akan setia mendengarkanku tanpa peduli isi cerita itu tentang marahku, sedihku, bahagiaku, ataupun kekhawatiranku. Seseorang yang membuat hatiku tak bisa lagi mencintai orang yang lain. Seseorang yang saat ini aku yakini telah terhenti mendengarkan aku. Seseorang, yang bahkan wajahnya saja tidak pernah lagi mengisi galeri di telepon selulerku, tapi tidak pernah ranum dalam ingatanku yang perlahan menua. Seseorang yang mungkin saat ini sedang sibuk mendengarkan cerita wanita yang lain. Ah.., berulangkali aku menasihati hati dan pikiranku untuk tidak memikirkannya. Tapi, bukankah kebodohan itu sesekali datang bukan berarti aku masih tidak menerima takdirku untuk terpisah darinya?!
            Perjalanan hidup ini memang tidak pernah mudah bagiku. Aku tidak bisa menyalahkan orangtuaku yang menaruh harapan sepenuhnya kepadaku, sekalipun aku bukanlah anak pertama. Sekalipun, tak bisa dipungkiri, kita akan selalu bertemu ‘badai’ sesekali bahkan bersekian kali. Kelamaan, aku menertawai semesta yang selalu mudah ditebak karena mengijinkan semuanya itu. Seakan bicara pada diriku bahwa aku perlu sering-sering mempelajari proses agar terbiasa tetap tenang dalam melalui segala kemungkinan pergumulan yang datangnya kadang mendadak. Hidup memang tidak selalu tentang hal-hal yang indah. Dalam kegelisahanku, aku sering menangis, merasai kerapuhanku. Tidak ada satupun orang yang tahu dan dapat memahaminya. Sayangnya pula, tak satupun diantara orang terdekatku yang memberikanku dukungan manis dengan berkata : “Jangan sedih, kamu pasti bisa melewatinya. Aku selalu dukung kamu dalam doa. Kamu harus tetap kuat yah..”. Kalimat yang biasa aku sampaikan pada mereka dalam menunjukkan empatiku, tapi sebaliknya tak pernah aku dengar dari mereka. Hal yang menjadikanku pribadi yang tertutup, menyimpan semua masalahku dalam-dalam sambil berusaha tetap tersenyum. Itulah sebabnya terkadang aku benci dunia luar dengan segala keegoisannya, tapi terlampau sering merindui eforia alam yang bertawa lepas, mengenyahkan pekat. Hingga aku menyadari, cinta yang diberikan mereka bukan seperti itu, sekalipun aku memahami mereka mencintai aku, aku tidak perlu mengharap orang lain berbuat hal yang sama dengan apa yang aku lakukan. Karena aku tahu, cara orang dalam mencintai itu berbeda.
            Kehilangan orang yang kita cintai memang hal yang paling menyakitkan dalam hidup. Beruntunnya aku ditinggalkan, kadang membuat aku didera kesepian yang kepahitannya melebihi maut (hal yang aku sampaikan dalam tulisanku berjudul “sepi”). Tapi mimpi besarku tadi selalu jadi  penghiburku untuk bertahan. Aku masih memiliki keluarga dan teman-teman. Dan yang paling penting, aku masih memiliki Tuhan. Aku masih memiliki banyak harapan dan cinta. Aku percaya, entah bagaimana, aku akan memiliki hidup yang lebih bernilai bagi orang lain, setidaknya aku bisa didengar walau mungkin hanya oleh satu orang dalam hidupku. Aku percaya, suatu saat nanti aku pasti bisa meraih mimpiku. Aku ingat, Miss Merry Riana dalam buku berjudul Langkah Sejuta Suluh didalamnya terdapat kalimat : apabila kita mengatakan “bisa”, itu sudah membawa kita pada 50% pencapaian keberhasilan kita. Yang penting aku harus mengerahkan semua kemampuan dan tekadku untuk terus belajar dan tidak menyerah. Hard work always pays off!

Wednesday, April 26, 2017

Sepi

Ku sebut ia maut. Bahkan kehadirannya melebihi ketakutanku pada kematian. Ingin ku usir dia jauh-jauh dari peraduan malamku. Dan jika perlu, nafasnya tidak ingin lagi aku sentuh. Tapi, bagaimana bisa? Setiap pagi setianya merenggut senyumku yang mulai menghambar. Oh tidak.. Aku bahkan sudah lupa rasanya memekakan kata bahagia. Aku terlalu sibuk dengannya sampai tenggorokanku tercekat, mataku memerih, dan gairahku menggontai tak berdaya. Aku terkurung pada eforia yang tak bernyali untuk bergema. Dia merenggut semuanya hingga aku merasai jiwaku yang mulai mati, menghamba pada kepedihan. Sengatnya merasuki hingga ke setiap pembuluh darah.

Terlelah aku mengais asa, letih mengkhayal bahagia yang ku dewakan siang dan malam. Namun ia tetap saja mengasingkanku pada menara kegundahan. Jerujinya mematahkan ruang gerakku. Ahhh aku menyesal sempat mengundangnya, memberi dia ruang sesekali untuk menikmati diriku. Tapi nyatanya ia terlanjur menjadi bagian dalam diriku. Oh, aku rindu bingar, suara riuh yang menggaduh, menghernyakkan mimpi yang mulai pupus mengering. Aku benci pekatnya.. Kebisuannya merapuhkan cahaya di pelupuk mataku. Dia, yang temaramnya saja bahkan jauh lebih kelam dari malam, membuat segenapku berlarut dalam kesedihan yang tak bertepi. Berkesendirian, bahkan akal sehat masih saja menjauhiku, merontai kebodohanku yang diperhamba olehnya. Pergilah, tak ingin aku terdera. Biarkan saja semarak bergemuruh, sekalipun ia menertawakanku.

Sunday, April 23, 2017

Biarkan Rasa..

Biarkan rasa itu, tetap akan menyinari dan memberi harap
Rasa yang tidak pernah hilang, sekalipun musim berganti
Sekalipun, mungkin, suatu saat kita ada di tempat yang berbeda
Mungkin juga kita tak lagi menengadah pada langit yang sama

Rasa itu, hanya akan bersembunyi sementara saja
Karena, rasa itu, percayalah memiliki takdirnya sendiri
Rasa yang mengasah,
Menepikan jutaan rindu dan tanda tanya yang menyiksa
Antara penantian dan kegamangan

Dengan rasa itu, aku ingin berbagi kehidupan
Kamu tahu, hidup denganmu adalah mimpi terbesarku
Bernafas denganmu membuatku merasai rasa itu
Rasa yang terkadang membuatku habis akal
Namun juga setia menjadi suluh bagi langkahku yang rapuh

Rasa itu adalah cinta
Rasa yang paling diagungkan insani diantara rasa lainnya
Sebuah rasa yang tidak akan pernah lekang oleh letupan waktu
Kehilangannya adalah kesepian yang paling menakutkan
Kebahagiaan, nyatanya terasa mati jika ia tidak ada

Thursday, April 20, 2017

Mau SUKSES di Kencan Pertama?? Begini Caranya Biar Ngga Jadi Jomblo Abadi..

         Hallo sobat lookers.. Kali ini aku mau bahas gimana tips kencan pertama ala SV alias aku sendiri. Pasti banyak dong sobat lookers yang bisa dapetin tips kencan dengan mudah dari internet, tapi klo cara aku dijamin paling efektif. Kenapa bisa?? Karena metode yang aku pake yah pastinya pengalaman aku pribadi. Hahahha.. Dan kenapa efektif? Hal itu terbukti dari banyaknya cowok yang tergila-gila sama aku (pedeasik.com). Ngga gila juga sih yah paling ngga minat lah yah, disamping wajah aku yang cukup terbilang unyu-unyu gitu, sebenarnya aku punya cara ampuh bikin kencan tuh ngga bakal gatot alias berantakan. Ini dia tipsnya, dicatet yah..
1.      Waspadai calon partner kencan
Nah pertama-tama yang harus kamu lakuin adalah aku harus tau dulu siapa calon partner kencan aku. Ngga cewe or cowo, sama-sama harus waspada. Ngga ada salahnya kamu kepoin dulu si doi. Ini penting banget, karena u knowlah ya banyak banget yang kejebak sama rayuan maut si doi apalagi yang padahal ketemu aja belum. Bodohnya, banyak kejadian buruk yang menimpa cewe maupun cowo (especially cewe nih), yah ketipulah, dirampok, dianiaya or macem-macem. Sama aja sih intinya ketipulah yah yang bahasa gaulnya dibilang cybercrime. Jadi kamu jangan ketipu sama muka innosence si doi di profile picture-nya. Dan untuk yang sudah kenal sama doi mungkin ngga terlalu sulit ya, tapi tetap waspada itu penting. Jadi biarpun sudah kenal, ngga ada salahnya kamu juga harus tetap kepoin tuh doi. Kamu bisa kepoin dari semua teman-teman ataupun jejaring sosialnya, kalau bisa dari teman ke temannya lagi, pokoknya segala penjuru kamu harus kenalin tuh si doi terlebih dahulu.
2.      Pahami karakter si doi
Kalo tahap pertama sudah fix, berikutnya sobat lookers kudu pahami karakter dasar si doi. Karakter dasar di sini maksudnya, kamu harus tau terlebih dulu si doi tuh termasuk kriteria introvert, extrovert dan sebagainya. Nah sesuaikan dah tuh cocok ngga sama karakter yang bisa ngimbangin karakter sobat lookers. Kalo ngga cocok mending jangan deh, daripada nanti kamu obrolannya garing or justru malah bikin illfeel. Nah kalo dalam hal ini kamu ngga tau sama sekali karakter si doi, kamu juga bisa kenalin pas di TKP, yang penting intinya kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri.
3.      Jadi diri sendiri
Point pertama and then kedua emang penting sobat, tapi seperti aku bilang sebelumnya di point kedua, kamu harus tetap jadi diri sendiri. It’s really important! Lakukanlah momen kencan kalian tuh dengan relax, apa adanya dan sopan pastinya, bukan jaim loh karena kalo terlalu jaim berarti kamu ngga jadi diri kamu sendiri.
4.      Jangan terlalu all out
Dalam hal ini pengertian all out di sini, kamu tuh ngga perlu berlebihan, yang simple aja.. Aku yakin si doi juga ngga terlalu suka kalo kamu tuh terlalu over. Baik dari segi make up khususnya buat cewe nih, maupun tampilan, yang wajar ajalah.. Dikondisikan dengan lokasi kencan kalian, jangan sampai kamu jadi saltum alias salah kostum, apalagi kalo disangka mau ngelenong, bahaya.. Kalau buat cowo, rapih itu perlu banget tapi rambut plis jangan terlalu klimis juga dan jangan pakai parfum yang terlalu nyanter baunya. Percaya deh cewe emang suka cowo yang wangi dan bersih tapi jangan sampai aroma wewangian kamu tuh bikin cewe eneg kayak masmet-masmet gitu (btw masmet itu mas-mas metal, maaf ini cuma istilah umum aja ngga maksud ngehina suku tertentu, meski kamu juga ngga pernah nyium bau mas-mas metal itu gimana wkwkkwk *njleb*).
5.      Control yourself dan Jaga diri sebaik-baiknya
Biarpun si doi ganteng or cantik ampun, kamu harus tetap stabil or stay cool (tenang loh bukan jaim). Dan sekalipun sobat lookers dan si doi sudah mulai ada rambu-rambu ketertarikan dalam perjalanan kencan tersebut, kalian harus tetap jaga diri. Jangan sampai kalian termakan rayuan gombal apalagi sudah menjurus-jurus ke arah yang ngga halal ya. Kendalikan diri kalian! Ini penting banget, khususnya buat si cewe sebagai kaum yang lemah hati. Pertahankan prinsip kalian sebagai cewe-cewe yang berharga. Plis deh sekedar permohonan untuk para cowo, kalo kalian ngaku cowo yang gentle, hargailah cewe kalian sebagai kalian ngehargain nyokap kalian.
6.      Pertahankan komunikasi yang intens
Kencan yang berhasil or gagal itu kelihatan dari the next level atau komunikasi selanjutnya. Kalo setelah kencan pertama, si cowo nganterin pulang si cewe and setelah itu ada komunikasi yang intens di antara kalian, bisa dipastikan kalo kencan tersebut berhasil gaess. Kalo lu juga demen, tanggepin dah tuh si doi tapi kalo kamu ngga demen, kamu bilang aja terus terang dan dengan sopan kalo kalian cuma asik buat temenan aja (yang penting jangan di PHP-in tuh doi, sianan). Kalo sampai si doi ngotot gitu yah mau ngga mau pakai cara yang agak mainstream pada umumnya.
Nah, sudah dapet dong yah inti sari dari tips aku ini. Yah aku harap sih bisa bermanfaatlah, biar sobat lookers cepetan deh jadian sama gebetannya, lumayan buat menekan pertumbuhan jomblowers di negeri tercinta. Intinya janganlah jadikan momen kencan itu momen yang asal-asalan, biar berkesanlah yah. Syukur-syukur kalo cocok kan bisa langgeng or bahkan bisa lanjut ke pelaminan, wih asikk nian. Kalo ada sobat lookers yang mau tanya-tanya, monggo silahkan dikomen aja, atau mau kritik or saran juga boleh banget. Ok sekian dan terima kasih,. 😊

Saturday, April 8, 2017

090417, Sunday Diary


Wew masih melek jam segini karena insomniaku lagi meradang. Kali ini aku mau sekedar cerita bebas yang sebenarnya dilandasi oleh kegalauan hati (cahelahh..). Teman semua pasti pernah dong yah yang namanya pacaran, jatuh cinta, dan semacamnya (pastinya yah, klo belum pernah yah ga pape juga sih, nanti juga ngalemin). Dan masalahnya, ada beberapa orang atau bahkan banyak diantaranya yang sering banget tuh jatuh cinta. Dan mantan aku sendiri pernah ngakuin kok (cieee yg pernah punya mantan 😆 *sambil cengengesan*). Yep, dia ngaku sering jatuh cinta. Wajar sih ya dia kan laki, mungkin niatan nyari yg terbaik, yg tahan bantinglah istilahnya. Nah makanya kita putus, karena aku ga tahannn dibanting, aku kan kuyus. Aku sama dia jg profesional aja kok, jalan aja ketemu jg cuma 3 kali selama 1 tahun. Hahaha pacaran macam apa itu ? Ya dia agak2 bossy sih ya krn bawaannya di kantor, tapi aku happy kok sama dia jadi kita pisahnya jg ga pake berat.

Yang paling mengenaskan sebenarnya ketika putus dengan mantan aku yg sebelumnya. Widih hampir mau nikah bokkk. Tapi setelah 6th pisah beliau sudah gonta ganti pasangan beberapa kali, eike masih SH (alias single happy). Sebenarnya sih ga hepi2 banget sih, biasa aja. Konon dengar kabar terakhir, beliau lagi dekat sama cewek. Yah untung ajalah masih cewek, aku ga rela klo dia sama laki, beneran deh. Kadang aku pengen curhat sama salah satu dari mereka berdua itu, tp aku kan pribadinya ga mau ngusik kebahagiaan orang yg aku sayangi. Jadi palingan aku cm bisa mewek sendirian atau klo ga ya curhat deh kya gini ini.

Terus klo ada pertanyaan iseng dari beberapa teman tentang siapa sih yang bikin seorang Shesil Vhera itu jd males buat pacaran (lagi)? Jawabannya "ngga ada". Karena aku ga males kok buat pacaran lagi. Cumaaa.. Aku sudah ngerasa tua buat pacaran. Jujur, banyak yg deketin aku, tapi pas sudah mulai tahap "jalan yuk" or "aku jemput yah", "hayo dong kasih kesempatan aku", bla bla bla.. Aduh aku jengahhh minta ampun, ribet. Aku memang pribadi yg sangat teramat sulit jatuh cinta, aplg klo cm buat pacaran, haiyahh sdh pernah ngerasain waktu ABG. Aku nyari yg halal aja dunia akherat, biar samara rumah tanggaku nanti. Amin.

Jadi gaess, intinya sah2 aja sih buat kalian pacaran. Dan ada masa2nya jg kalian mungkin pernah nyobain dosa, tapi pleaseee jgn keterusan. Klo dibiasain bisa candu. Apalagi buat ciwik2 kece di muka bumi ini, hati2 gals, jaga kehormatan kalian sebisa mungkin. Dan buat para jejaka, hargailah wanita2 kalian seperti kalian menghargai ibu kalian. Jadilah laki2 yg bertanggung jawab dan stop nambah kapasitas laki2 bere**s*k. Biar hidup kita semua berkah. Di bumi dan di surga. Amin..

Tuesday, March 28, 2017

Surat Terakhir

                Seperti biasa di sore itu hujan tak pernah urung untuk turun sejak dua bulan terakhir. Bagai jutaan duri yang menggelegar rimbun berjatuhan. Langit yang meredupkan sinarnya, dan angin semakin asik bergurau riuh merasuki dahan pepohonan yang turut gugur beterbangan. Aku terdiam, berdiri di sisi jendela kamar, berharap ia datang untuk menemuiku. Sekalipun aku sadar aku yang berkata dengan amarah agar ia tidak perlu repot-repot untuk menemui atau menghubungiku lagi. Aku mengusap air mata yang mulai berjatuhan tanpa henti, sederas pilu hujan yang turun. Dalam hati aku menyalahi diriku sendiri. Aku hanya ingin dia tetap datang menemuiku tanpa mengindahkan amarah dengan kata-kata emosiku. Aku terdiam, di tangan kananku aku masih memegang ponsel yang setiap menit aku pandangi, berharap ia menghubungi atau bahkan hanya sekedar mengirimkan pesan.
“Please, hubungi aku Gas..” Gumamku sambil mengusap kembali air mata yang makin tak mampu menahan perihnya hati. Akan menyukakan hatiku sekalipun pesan itu berupa kata maaf darinya. Namun, harapku menjadi pupus ketika hingga keesokan paginya tidak ada satupun kabar dari dia sekalipun melalui mimpi. Dengan ego yang meradang, aku menahan rasa rinduku, juga rasa perih karena penyesalan dan kecewa yang datangnya bersamaan, hari demi hari. 
            Aku mulai hari Senin itu dengan profesionalitas kerja yang menuntutku untuk tetap stabil dalam kondisi apapun. Udara yang cerah tidak mampu memperbaiki suasana hatiku. Aku lebih banyak diam, melamun tentang masalah drama percintaan yang tengah aku hadapi. Sesekali Leader ku bertanya dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Seperti biasa, dia selalu cukup cerdas untuk mengetahui masalahku yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk bercerita.
“Mba, gue harus gimana mba..? Bagas sampai sekarang belum juga menghubungi gue.” Ceritaku mengawali.
“Terus, lu juga ga coba hubungin dia hah?” Tanya Mba Ratih dengan mengerutkan dahi.
“Yah ga mungkinlah mba gue yang hubungin dia, kayak jilat ludah gue sendiri dong.. Kalau gue yang salah, gue pasti hubungin dia duluan untuk minta maaf, tapi ini kan dia yang salah mba..”
“Emang masalahnya apa sih sampai lu tuh marah sebegitunya sama Bagas, Rey?”
“Dia janji jemput gue di Halte Karet jam 7 pas malam minggu kemarin mba, tapi sampai jam 10 gue tungguin dia ga dateng juga. Bahkan untuk sekedar bilang maaf di telpon aja dan kasih tahu alasan dia telat jemput aja ngga tuh mba.”
“Lah kok gitu? Terus gimana, lu nunggu dia sampai jam berapa di halte? Gila itu kan horror banget cewek malem-malem nunggu sendirian di halte Rey..”
“Nah itu dia mba. Tapi dia akhirnya nyampe juga tuh mba pas jam 10:45. Langsung aja tanpa basa-basi gue pergi tinggalin dia dan nyuruh dia untuk ngga usah nemuin gue lagi dan ngga perlu lagi hubungin gue dengan cara apapun.” Penjelasanku membuat Mba Ratih menggenggam tanganku pelan.
“Ya ampun.. Lu pergi gitu aja tanpa minta penjelasan dari dia, Rey?”
“Sekarang coba lu ada diposisi gue mba, lu nunggu hampir 3 jam di halte malam-malam sendirian tanpa kabar dari dia, sementara lu sudah berkali-kali hubungin dia tapi ngga ada satupun ditanggapi sama dia? Kalau dia alasan ngga punya pulsa, harusnya dia angkat dong mba telpon gue itu, ya kan?! Tapi ini sama sekali ngga ada, bahkan dia coba jelasin ke gue aja ngga tuh mba, sampai sekarang ngga ada usaha dari dia untuk kasih penjelasan ke gue. Apa itu yang namanya dia cinta sama gue mba setelah 3 tahun gue pacaran sama dia, rasa-rasanya seakan ngga ada alasan yang cukup berarti bagi dia untuk mempertahankan cinta kami. 3 hari ini gue masih nungu kabar dari dia mba, tapi hasilnya nihil!”
“Iya sih Rey.. Gue ngerti. Sekarang mending lu kasih waktu dulu untuk sementara buat hubungan kalian. Tunggu sampai 1 minggu ini, kalau sampai ngga ada kabar juga dari Bagas, saran gue sih mending lu tanya langsung sama dia tentang kelanjutan hubungan kalian biar ngga ngegantung dan berlarut-larut.”
“Oke mba.. Tapi entah kenapa gue rasa sakit banget hati gue mba..?”
“Iya wajar sih, mengingat kondisinya seperti ini. Tapi kalau Bagas serius sama lu, dia pasti hubungin lu lagi kok gue yakin.”
“Amin. Iya mba mudah-mudahan aja ya..”
            Seminggu berlalu namun tidak juga ada kabar dari Bagas di ponselku. Akhirnya dengan keberanian penuh, aku mencoba menghubunginya. Namun pahitnya, tidak ada satupun respon jawaban dari dia. Aku coba untuk mengirimkan pesan menanyakan dia di mana, tapi hasilnya masih tetap nihil. Terpaksa aku coba hubungi kantor tempat dia kerja, setelah beberapa kali, operator tersebut selalu memberikan jawaban yang sama bahwa Bagas sedang tidak ada di kantor. Semakin putus asa bercampur emosi yang tak tertahankan, akhirnya aku menemui Bagas dikantornya. Untungnya aku mengenal semua teman-teman kantor Bagas, karena Bagas kerap kali mengajak aku ke kantornya. Dengan tatapan dingin Bagas menatapku dan langsung mengalihkan pandangannya pada komputer yang ada didepannya. Kesal, akhirnya aku minta Mas Nunus untuk menyampaikan pesan bahwa aku ingin bertemu dengan Bagas.
“Maaf ya Rey, Bagas katanya sedang sibuk, kamu bisa tunggu dia pulang kantor di ruang tamu ya.” Jawab Mas Nunus.
            Sudut-sudut ruangan itu terasa bisu tanpa kehidupan. Tidak ada lagi suara orang yang mengobrol ataupun berlalu lalang untuk pulang. Nyala lampunya saja malah semakin menambah kepekaan sepi. Jam menunjukkan pukul 19:30 tapi Bagas tak juga kunjung menemuiku. Entah apa yang dikerjakan Bagas beserta timnya di ruangan produksi. Tiba-tiba Mas Nunus dan Mas Said datang menghampiriku untuk pamit pulang terlebih dahulu, meninggalkan Bagas sendiri di ruangannya. Akhirnya aku putuskan untuk langsung menemuinya ke dalam ruangan kerjanya. Aku melihat Bagas masih sibuk di depan komputer meja kerjanya.
“Bagas, aku mau ngomong!”
“Ngapain kamu disini, bukannya kamu yang bilang kita ngga usah ketemu?” Jawaban Bagas yang terlihat santai makin menambah kecewa dan kekesalanku.
“Jahat kamu ya.. Terus kamu mau kita putus gitu aja hah??”
“Bukan mau aku kita putus, tapi ini semua kemauan kamu. Berkali-kali kamu minta putus, harusnya kamu seneng dong akhirnya aku kabulkan permintaan putus kamu itu.” Bagas masih saja fokus dengan komputernya dan menyahutku tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Rasa sakit yang tiada tara mulai menekan jantungku hingga sulit rasanya untuk bernafas. Aku terdiam, berusaha menguatkan hati dan mengatur suara agar tetap stabil.
“What?? Setelah 3 tahun kita pacaran, bahkan kamu janji buat nikahin aku, sekarang kamu semudah itu ngelepas aku begitu aja, Gas?”
Bagas melihat ke arahku, untuk pertama kalinya rasanya ingin aku tampar wajah itu. Wajah yang selalu menenangkan bathinku setiap kali aku ditekan masalah. Tapi saat itu, aku melihat wajah laki-laki paling berengsek yang pernah aku kenal.
“Sayang denger aku, kita udahan aja, kita putus..”
“Bisa-bisanya kamu bilang sayang disaat kamu mutusin aku Gas.. Dimana hati kamu?”
“Aku mau kita jalan masing-masing. Maaf aku ngga bisa jadi cowok yang sempurna buat kamu, ngga bisa jadi yang kamu mau.”
“Aku cuma nunggu kata maaf dari kamu karena kamu sudah buat aku nunggu selama 3 jam di halte sendiri tanpa kabar, tapi yang aku dapat cuma kata-kata putus dari kamu. Aku benar-benar ngga nyangka kamu sehebat ini nyakitin hati aku Gas..”
Aku tidak mampu menahan tangis yang keluar begitu saja. Dalam hati, aku menyadari kebodohanku yang seakan sedang mengemis cinta seorang laki-laki yang nyatanya sudah tidak ingin bersamaku. Aku dekati  Bagas yang wajahnya mulai tertunduk. Aku masih bisa melihat tangannya yang bergetar, aku menggenggamnya perlahan, mencium pelupuknya untuk terakhir kali. Tanpa dapat ku tahan, air mataku jatuh ke atasnya. Bagas memalingkan wajahnya, tapi aku tetap berusaha memeluknya, sekalipun dia tak membalas pelukanku. Tubuhnya yang dulu selalu membuatku nyaman kini terasa kaku dan dingin. Akupun pergi dengan menahan perasaan luka yang tidak terkatakan. Dalam hati aku masih berharap Bagas berlari ke arahku untuk memelukku kembali dan menyampaikan maafnya, maka aku akan dengan ringan hati memaafkannya. Tapi kenyataannya tidak. Bagas tidak pernah jadi bagian hidupku lagi setelah kejadian itu.
Dengan kesedihan yang mendalam, akhirnya aku memutuskan untuk pindah kerja dan pindah kost. Mencoba menghapus banyaknya kenangan yang terlalui bersama Bagas. Di sepanjang jalan, lokasi dimana dia biasa antar dan jemput aku kerja, tempat kami biasa makan dan bercerita tentang keluh kesah keluarga ataupun pekerjaan, semuanya serasa hidup, serasa memunculkan slide demi slide kisah kami berdua yang terlalu sulit untuk dilupakan. Aku menonaktifkan semua akun media sosialku, menghapus kontak-kontak yang berhubungan dengan Bagas, bahkan aku membuang semua barang pemberian Bagas.
Dua tahun berlalu, tiba-tiba aku mendapat pesan dari seorang teman kerja Bagas yang menanyakan kabarku. Apakah aku sudah menikah, punya anak, dan masih banyak pertanyaan lain yang dia ajukan. Sempat terlintas di benakku bahwa orang tersebut adalah orang suruhan Bagas ataupun  Bagas sendiri yang mengirimkan pesan. Tapi terbantahkan saat aku mengetahui dia adalah Mba Nur, teman kerja Bagas yang selalu mendukung hubungan kami berdua untuk segera menikah. Mba Nur mengajak aku untuk makan malam bersama di salah satu mall di Jakarta. Dengan senang hati aku mengiyakan, karena akupun sangat rindu dengan sosok yang sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri itu.
Hari yang ditentukanpun tiba. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mba Nur. Mba Nur yang terlihat masih selalu muda dengan tampilan hijabnya yang menawan membuat aku langsung mengenalinya. Sepanjang obrolan ceria kami, tidak ada satupun mengungkit sebuah nama yang memang aku harapkan tidak akan pernah keluar dari ucapan Mba Nur. Tetapi aku salah, aku dikagetkan dengan suara Mba Nur yang tiba-tiba saja bernada parau dan sedikit ragu.
“Hmm.. Rey, kamu ngga mau tahu tentang kabar Bagas?” Tanya Mba Nur tiba-tiba yang pastinya menghernyakkan tawaku.
“Ngga mba.. Aku sudah ngga mau dengar apa-apa tentang dia.” Jawabku singkat sambil tertunduk.
“Kenapa? Kamu sudah punya pengganti Bagas ya?”
“Oh ngga kok mba. Aku memang sudah ngga mau dengar kabar tentang dia, bahkan kalau bisa ngga perlu dengar nama dia mba.”
“Oh begitu.. Maaf ya sayang aku jadi ungkit nama itu lagi.”
“Iya ngga apa-apa mba.”
“Tapi terus terang aku ada titipan surat untuk kamu.”
“Dari siapa mba?”
“Dari Bagas.”
“Haha.. Mba ini ada-ada aja ngapain juga dia kasih surat untuk aku? Mba buang aja surat itu, aku sudah ngga perlu lagi. Aku sudah move on dari dia mba, aku sudah ikhlas dan aku sudah ngga mau tahu tentang apapapun mengenai dia.”
“Tapi, Rey..”
“Please mba, aku mohon buang aja surat itu. Aku sudah ngga mau berurusan sama..”
“Bagas sudah meninggal Rey..” Suara parau Mba Nur yang bergetar yang langsung memotong ucapanku terdengar melambat seakan memerihkan kembali hatiku yang sudah susah payah aku rajut kembali kepingan retakannya.
“Hah?? Meninggal mba..?”
“Bagas sudah meninggal satu minggu yang lalu. Dia di vonis terkena kanker otak stadium empat sejak dua tahun yang lalu.”
“Dua tahun yang lalu..?”
“Ya, dua tahun yang lalu. Dia hanya menceritakan itu pada teman dekatnya termasuk mba. Bahkan keluarga ngga satupun yang tahu tentang penyakitnya. Dia sembunyikan semua dari kamu, agar kamu bisa menjalani hidup kamu, begitu yang dia bilang sama mba.”
“Ta, tapi.. Mba bohong kan, ini ngga mungkin kan mba? Mba jangan bercanda deh, aku lagi ngga ingin bercanda loh mba, ini keterlaluan..”
“Ngga sayang, mba benar-benar serius. Sebenarnya, di hari Bagas mau jemput kamu, dia sedang di rumah sakit mengeluhkan vertigo yang dideritanya. Mba sendiri dan Mas Nunus yang mengantarnya ke rumah sakit, jadi kami adalah orang pertama yang tahu mengenai penyakit Bagas. Bagas meminta kami untuk merahasiakan semua itu dari keluarga dan khususnya kamu Rey..”
“Vertigo? Aku tahu Bagas sering mengeluhkan sakit di kepalanya, tapi setiap aku tanya dia hanya menjawab itu hal biasa karena kecapean seharian di depan komputer, dia selalu bilang kondisinya langsung membaik setelah meminum obat warung. Aku ngga pernah tahu kalau Bagas begitu menderita mba, kenapa dia ngga pernah cerita sama aku mba, kenapa..??”
“Yah itulah Rey, setiap dia mulai merasa sakit dia berusaha menyembunyikannya di depan kamu, lalu bergegas untuk pulang. Padahal saat itu dia menginap dan tinggal di kantor untuk menyembunyikan sakitnya dari keluarganya. Dia ngga bisa berbuat apa-apa Rey, yang dia tahu, dia hanya ngga mau buat kamu sedih.”
“Mba.. Aku.. Aku..” Aku tidak bisa menahan air mata yang makin membanjiri wajahku, Mba Nur dengan iba langsung memelukku erat. Hatiku benar-benar hancur untuk kedua kalinya. Aku masih tidak percaya, rasa kecewa dan kesedihan yang teramat sangat menekan hatiku begitu hebatnya.
“Maafin mba ya sayang.. Mba ngga kasih tahu kamu lebih awal karena mba sudah kepalang janji sama almarhum, mba ngga bisa berbuat apa-apa. Mba sudah bilang Bagas bahwa dengan kasih sayang kamu, pasti bisa mendorong dia untuk cepat pulih. Tapi Bagas ngga pernah mau membawa kamu ikut dalam penderitaannya. Satu hal yang perlu kamu tahu Rey, Bagas selalu mencintai kamu.. Itu yang mba pastikan kamu harus tahu itu ya sayang..” Ucapan Mba Nur yang membuat isakku semakin tak tertahankan turut membuat Mba Nur tidak dapat menahan air matanya karena tidak tega melihat kesedihanku yang begitu dalam.
Setibanya di rumah, aku masih menitikkan air mata yang perih. Begitu dalamnya hingga aku tak sanggup untuk membuka surat dari Bagas. Aku membaringkan tubuhku, meremas hatiku yang terasa semakin sakit, aku hanya bisa berucap meminta kekuatan dari Tuhan. Perlahan ku buka surat itu, dan hatiku semakin sakit dan hancur. Serasa dunia ini begitu berat membebani ragaku, seakan kebahagiaan sudah mati rasa untuk menghampiriku. Oh Tuhan tolonglah aku. Berilah aku kekuatan..
  

“Teruntuk sayangku,

Hallo sayang.. Bagaimana kabar kamu di sana? Sudah dua tahun aku ngga bisa nemuin kabar kamu, rupanya kamu sudah menonaktifkan semua akun media sosialmu. Padahal, cuma itu obat dari rasa rinduku agar aku masih bisa menikmati senyum manis kamu. Tapi aku harap kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Maaf aku sudah tidak bisa menjaga kamu belakangan ini. Maaf aku sudah membuat kamu menunggu lama di halte. Maaf ya sayang, aku menyembunyikan semua ini dari kamu. Maaf, karena aku telah membuatmu menderita. Percayalah sayang, aku jauh lebih menderita melihat kamu menderita karena aku. Dan maaf aku tidak bisa memeluk kamu lagi bahkan saat kamu menangis dipertemuan terakhir kita aku tidak membalas pelukanmu, sekalipun aku sangat ingin melakukannya. Maaf juga sayang, bidadari hatiku, karena aku tidak mengundang kamu di hari peristirahatan terakhirku..
Sayang.. Aku benar-benar tersiksa hidup tanpa kamu. Kehilangan kamu jauh lebih menyiksaku ketimbang penyakit ini. Kekasih hatiku yang selalu aku rindukan untuk aku peluk. Tapi sayang, aku cuma mau kamu menjalani hari-hari kamu mulai detik ini dan seterusnya untuk tetap bahagia meskipun tanpa aku. Itu permohonan terakhirku, sayang.. Berbahagialah demi aku.. Aku tahu dengan pasti, hati kamu masihlah untuk aku, karena akupun demikian. Tapi akan lebih membahagiakanku jika kamu bisa bahagia dengan duniamu yang baru. Doaku dari sini, namun hatiku tidak pernah jauh dari kamu sayang, selamanya.. I love you, as always.

Hatiku hancur bagaikan kepingan kaca yang tidak akan pernah bisa utuh lagi. Takdir yang hanya bisa menyiksaku tanpa memberiku kesempatan untuk mengamini bahagia. Entah berapa lama waktunya, aku bisa menerima kenyataan pahit yang mendukakan pikiranku siang dan malam? Kepergian kekasih hatiku rasa-rasanya mematikan inginku untuk mencintai lagi. Entah apa aku bisa, merasai cinta yang melebihi apa yang dia beri untukku. Karena bagiku dia adalah kesempurnaan yang sempurna yang pernah dititipkan Tuhan untukku..

Sunday Diary, 280118

Dear Diary.. Tiba-tiba saja koko menghubungiku lagi. Entah harus senang atau tidak, yang jelas perasaanku mulai datar. Bahkan aku memutusk...