Tuesday, March 28, 2017

Surat Terakhir

                Seperti biasa di sore itu hujan tak pernah urung untuk turun sejak dua bulan terakhir. Bagai jutaan duri yang menggelegar rimbun berjatuhan. Langit yang meredupkan sinarnya, dan angin semakin asik bergurau riuh merasuki dahan pepohonan yang turut gugur beterbangan. Aku terdiam, berdiri di sisi jendela kamar, berharap ia datang untuk menemuiku. Sekalipun aku sadar aku yang berkata dengan amarah agar ia tidak perlu repot-repot untuk menemui atau menghubungiku lagi. Aku mengusap air mata yang mulai berjatuhan tanpa henti, sederas pilu hujan yang turun. Dalam hati aku menyalahi diriku sendiri. Aku hanya ingin dia tetap datang menemuiku tanpa mengindahkan amarah dengan kata-kata emosiku. Aku terdiam, di tangan kananku aku masih memegang ponsel yang setiap menit aku pandangi, berharap ia menghubungi atau bahkan hanya sekedar mengirimkan pesan.
“Please, hubungi aku Gas..” Gumamku sambil mengusap kembali air mata yang makin tak mampu menahan perihnya hati. Akan menyukakan hatiku sekalipun pesan itu berupa kata maaf darinya. Namun, harapku menjadi pupus ketika hingga keesokan paginya tidak ada satupun kabar dari dia sekalipun melalui mimpi. Dengan ego yang meradang, aku menahan rasa rinduku, juga rasa perih karena penyesalan dan kecewa yang datangnya bersamaan, hari demi hari. 
            Aku mulai hari Senin itu dengan profesionalitas kerja yang menuntutku untuk tetap stabil dalam kondisi apapun. Udara yang cerah tidak mampu memperbaiki suasana hatiku. Aku lebih banyak diam, melamun tentang masalah drama percintaan yang tengah aku hadapi. Sesekali Leader ku bertanya dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Seperti biasa, dia selalu cukup cerdas untuk mengetahui masalahku yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk bercerita.
“Mba, gue harus gimana mba..? Bagas sampai sekarang belum juga menghubungi gue.” Ceritaku mengawali.
“Terus, lu juga ga coba hubungin dia hah?” Tanya Mba Ratih dengan mengerutkan dahi.
“Yah ga mungkinlah mba gue yang hubungin dia, kayak jilat ludah gue sendiri dong.. Kalau gue yang salah, gue pasti hubungin dia duluan untuk minta maaf, tapi ini kan dia yang salah mba..”
“Emang masalahnya apa sih sampai lu tuh marah sebegitunya sama Bagas, Rey?”
“Dia janji jemput gue di Halte Karet jam 7 pas malam minggu kemarin mba, tapi sampai jam 10 gue tungguin dia ga dateng juga. Bahkan untuk sekedar bilang maaf di telpon aja dan kasih tahu alasan dia telat jemput aja ngga tuh mba.”
“Lah kok gitu? Terus gimana, lu nunggu dia sampai jam berapa di halte? Gila itu kan horror banget cewek malem-malem nunggu sendirian di halte Rey..”
“Nah itu dia mba. Tapi dia akhirnya nyampe juga tuh mba pas jam 10:45. Langsung aja tanpa basa-basi gue pergi tinggalin dia dan nyuruh dia untuk ngga usah nemuin gue lagi dan ngga perlu lagi hubungin gue dengan cara apapun.” Penjelasanku membuat Mba Ratih menggenggam tanganku pelan.
“Ya ampun.. Lu pergi gitu aja tanpa minta penjelasan dari dia, Rey?”
“Sekarang coba lu ada diposisi gue mba, lu nunggu hampir 3 jam di halte malam-malam sendirian tanpa kabar dari dia, sementara lu sudah berkali-kali hubungin dia tapi ngga ada satupun ditanggapi sama dia? Kalau dia alasan ngga punya pulsa, harusnya dia angkat dong mba telpon gue itu, ya kan?! Tapi ini sama sekali ngga ada, bahkan dia coba jelasin ke gue aja ngga tuh mba, sampai sekarang ngga ada usaha dari dia untuk kasih penjelasan ke gue. Apa itu yang namanya dia cinta sama gue mba setelah 3 tahun gue pacaran sama dia, rasa-rasanya seakan ngga ada alasan yang cukup berarti bagi dia untuk mempertahankan cinta kami. 3 hari ini gue masih nungu kabar dari dia mba, tapi hasilnya nihil!”
“Iya sih Rey.. Gue ngerti. Sekarang mending lu kasih waktu dulu untuk sementara buat hubungan kalian. Tunggu sampai 1 minggu ini, kalau sampai ngga ada kabar juga dari Bagas, saran gue sih mending lu tanya langsung sama dia tentang kelanjutan hubungan kalian biar ngga ngegantung dan berlarut-larut.”
“Oke mba.. Tapi entah kenapa gue rasa sakit banget hati gue mba..?”
“Iya wajar sih, mengingat kondisinya seperti ini. Tapi kalau Bagas serius sama lu, dia pasti hubungin lu lagi kok gue yakin.”
“Amin. Iya mba mudah-mudahan aja ya..”
            Seminggu berlalu namun tidak juga ada kabar dari Bagas di ponselku. Akhirnya dengan keberanian penuh, aku mencoba menghubunginya. Namun pahitnya, tidak ada satupun respon jawaban dari dia. Aku coba untuk mengirimkan pesan menanyakan dia di mana, tapi hasilnya masih tetap nihil. Terpaksa aku coba hubungi kantor tempat dia kerja, setelah beberapa kali, operator tersebut selalu memberikan jawaban yang sama bahwa Bagas sedang tidak ada di kantor. Semakin putus asa bercampur emosi yang tak tertahankan, akhirnya aku menemui Bagas dikantornya. Untungnya aku mengenal semua teman-teman kantor Bagas, karena Bagas kerap kali mengajak aku ke kantornya. Dengan tatapan dingin Bagas menatapku dan langsung mengalihkan pandangannya pada komputer yang ada didepannya. Kesal, akhirnya aku minta Mas Nunus untuk menyampaikan pesan bahwa aku ingin bertemu dengan Bagas.
“Maaf ya Rey, Bagas katanya sedang sibuk, kamu bisa tunggu dia pulang kantor di ruang tamu ya.” Jawab Mas Nunus.
            Sudut-sudut ruangan itu terasa bisu tanpa kehidupan. Tidak ada lagi suara orang yang mengobrol ataupun berlalu lalang untuk pulang. Nyala lampunya saja malah semakin menambah kepekaan sepi. Jam menunjukkan pukul 19:30 tapi Bagas tak juga kunjung menemuiku. Entah apa yang dikerjakan Bagas beserta timnya di ruangan produksi. Tiba-tiba Mas Nunus dan Mas Said datang menghampiriku untuk pamit pulang terlebih dahulu, meninggalkan Bagas sendiri di ruangannya. Akhirnya aku putuskan untuk langsung menemuinya ke dalam ruangan kerjanya. Aku melihat Bagas masih sibuk di depan komputer meja kerjanya.
“Bagas, aku mau ngomong!”
“Ngapain kamu disini, bukannya kamu yang bilang kita ngga usah ketemu?” Jawaban Bagas yang terlihat santai makin menambah kecewa dan kekesalanku.
“Jahat kamu ya.. Terus kamu mau kita putus gitu aja hah??”
“Bukan mau aku kita putus, tapi ini semua kemauan kamu. Berkali-kali kamu minta putus, harusnya kamu seneng dong akhirnya aku kabulkan permintaan putus kamu itu.” Bagas masih saja fokus dengan komputernya dan menyahutku tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Rasa sakit yang tiada tara mulai menekan jantungku hingga sulit rasanya untuk bernafas. Aku terdiam, berusaha menguatkan hati dan mengatur suara agar tetap stabil.
“What?? Setelah 3 tahun kita pacaran, bahkan kamu janji buat nikahin aku, sekarang kamu semudah itu ngelepas aku begitu aja, Gas?”
Bagas melihat ke arahku, untuk pertama kalinya rasanya ingin aku tampar wajah itu. Wajah yang selalu menenangkan bathinku setiap kali aku ditekan masalah. Tapi saat itu, aku melihat wajah laki-laki paling berengsek yang pernah aku kenal.
“Sayang denger aku, kita udahan aja, kita putus..”
“Bisa-bisanya kamu bilang sayang disaat kamu mutusin aku Gas.. Dimana hati kamu?”
“Aku mau kita jalan masing-masing. Maaf aku ngga bisa jadi cowok yang sempurna buat kamu, ngga bisa jadi yang kamu mau.”
“Aku cuma nunggu kata maaf dari kamu karena kamu sudah buat aku nunggu selama 3 jam di halte sendiri tanpa kabar, tapi yang aku dapat cuma kata-kata putus dari kamu. Aku benar-benar ngga nyangka kamu sehebat ini nyakitin hati aku Gas..”
Aku tidak mampu menahan tangis yang keluar begitu saja. Dalam hati, aku menyadari kebodohanku yang seakan sedang mengemis cinta seorang laki-laki yang nyatanya sudah tidak ingin bersamaku. Aku dekati  Bagas yang wajahnya mulai tertunduk. Aku masih bisa melihat tangannya yang bergetar, aku menggenggamnya perlahan, mencium pelupuknya untuk terakhir kali. Tanpa dapat ku tahan, air mataku jatuh ke atasnya. Bagas memalingkan wajahnya, tapi aku tetap berusaha memeluknya, sekalipun dia tak membalas pelukanku. Tubuhnya yang dulu selalu membuatku nyaman kini terasa kaku dan dingin. Akupun pergi dengan menahan perasaan luka yang tidak terkatakan. Dalam hati aku masih berharap Bagas berlari ke arahku untuk memelukku kembali dan menyampaikan maafnya, maka aku akan dengan ringan hati memaafkannya. Tapi kenyataannya tidak. Bagas tidak pernah jadi bagian hidupku lagi setelah kejadian itu.
Dengan kesedihan yang mendalam, akhirnya aku memutuskan untuk pindah kerja dan pindah kost. Mencoba menghapus banyaknya kenangan yang terlalui bersama Bagas. Di sepanjang jalan, lokasi dimana dia biasa antar dan jemput aku kerja, tempat kami biasa makan dan bercerita tentang keluh kesah keluarga ataupun pekerjaan, semuanya serasa hidup, serasa memunculkan slide demi slide kisah kami berdua yang terlalu sulit untuk dilupakan. Aku menonaktifkan semua akun media sosialku, menghapus kontak-kontak yang berhubungan dengan Bagas, bahkan aku membuang semua barang pemberian Bagas.
Dua tahun berlalu, tiba-tiba aku mendapat pesan dari seorang teman kerja Bagas yang menanyakan kabarku. Apakah aku sudah menikah, punya anak, dan masih banyak pertanyaan lain yang dia ajukan. Sempat terlintas di benakku bahwa orang tersebut adalah orang suruhan Bagas ataupun  Bagas sendiri yang mengirimkan pesan. Tapi terbantahkan saat aku mengetahui dia adalah Mba Nur, teman kerja Bagas yang selalu mendukung hubungan kami berdua untuk segera menikah. Mba Nur mengajak aku untuk makan malam bersama di salah satu mall di Jakarta. Dengan senang hati aku mengiyakan, karena akupun sangat rindu dengan sosok yang sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri itu.
Hari yang ditentukanpun tiba. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mba Nur. Mba Nur yang terlihat masih selalu muda dengan tampilan hijabnya yang menawan membuat aku langsung mengenalinya. Sepanjang obrolan ceria kami, tidak ada satupun mengungkit sebuah nama yang memang aku harapkan tidak akan pernah keluar dari ucapan Mba Nur. Tetapi aku salah, aku dikagetkan dengan suara Mba Nur yang tiba-tiba saja bernada parau dan sedikit ragu.
“Hmm.. Rey, kamu ngga mau tahu tentang kabar Bagas?” Tanya Mba Nur tiba-tiba yang pastinya menghernyakkan tawaku.
“Ngga mba.. Aku sudah ngga mau dengar apa-apa tentang dia.” Jawabku singkat sambil tertunduk.
“Kenapa? Kamu sudah punya pengganti Bagas ya?”
“Oh ngga kok mba. Aku memang sudah ngga mau dengar kabar tentang dia, bahkan kalau bisa ngga perlu dengar nama dia mba.”
“Oh begitu.. Maaf ya sayang aku jadi ungkit nama itu lagi.”
“Iya ngga apa-apa mba.”
“Tapi terus terang aku ada titipan surat untuk kamu.”
“Dari siapa mba?”
“Dari Bagas.”
“Haha.. Mba ini ada-ada aja ngapain juga dia kasih surat untuk aku? Mba buang aja surat itu, aku sudah ngga perlu lagi. Aku sudah move on dari dia mba, aku sudah ikhlas dan aku sudah ngga mau tahu tentang apapapun mengenai dia.”
“Tapi, Rey..”
“Please mba, aku mohon buang aja surat itu. Aku sudah ngga mau berurusan sama..”
“Bagas sudah meninggal Rey..” Suara parau Mba Nur yang bergetar yang langsung memotong ucapanku terdengar melambat seakan memerihkan kembali hatiku yang sudah susah payah aku rajut kembali kepingan retakannya.
“Hah?? Meninggal mba..?”
“Bagas sudah meninggal satu minggu yang lalu. Dia di vonis terkena kanker otak stadium empat sejak dua tahun yang lalu.”
“Dua tahun yang lalu..?”
“Ya, dua tahun yang lalu. Dia hanya menceritakan itu pada teman dekatnya termasuk mba. Bahkan keluarga ngga satupun yang tahu tentang penyakitnya. Dia sembunyikan semua dari kamu, agar kamu bisa menjalani hidup kamu, begitu yang dia bilang sama mba.”
“Ta, tapi.. Mba bohong kan, ini ngga mungkin kan mba? Mba jangan bercanda deh, aku lagi ngga ingin bercanda loh mba, ini keterlaluan..”
“Ngga sayang, mba benar-benar serius. Sebenarnya, di hari Bagas mau jemput kamu, dia sedang di rumah sakit mengeluhkan vertigo yang dideritanya. Mba sendiri dan Mas Nunus yang mengantarnya ke rumah sakit, jadi kami adalah orang pertama yang tahu mengenai penyakit Bagas. Bagas meminta kami untuk merahasiakan semua itu dari keluarga dan khususnya kamu Rey..”
“Vertigo? Aku tahu Bagas sering mengeluhkan sakit di kepalanya, tapi setiap aku tanya dia hanya menjawab itu hal biasa karena kecapean seharian di depan komputer, dia selalu bilang kondisinya langsung membaik setelah meminum obat warung. Aku ngga pernah tahu kalau Bagas begitu menderita mba, kenapa dia ngga pernah cerita sama aku mba, kenapa..??”
“Yah itulah Rey, setiap dia mulai merasa sakit dia berusaha menyembunyikannya di depan kamu, lalu bergegas untuk pulang. Padahal saat itu dia menginap dan tinggal di kantor untuk menyembunyikan sakitnya dari keluarganya. Dia ngga bisa berbuat apa-apa Rey, yang dia tahu, dia hanya ngga mau buat kamu sedih.”
“Mba.. Aku.. Aku..” Aku tidak bisa menahan air mata yang makin membanjiri wajahku, Mba Nur dengan iba langsung memelukku erat. Hatiku benar-benar hancur untuk kedua kalinya. Aku masih tidak percaya, rasa kecewa dan kesedihan yang teramat sangat menekan hatiku begitu hebatnya.
“Maafin mba ya sayang.. Mba ngga kasih tahu kamu lebih awal karena mba sudah kepalang janji sama almarhum, mba ngga bisa berbuat apa-apa. Mba sudah bilang Bagas bahwa dengan kasih sayang kamu, pasti bisa mendorong dia untuk cepat pulih. Tapi Bagas ngga pernah mau membawa kamu ikut dalam penderitaannya. Satu hal yang perlu kamu tahu Rey, Bagas selalu mencintai kamu.. Itu yang mba pastikan kamu harus tahu itu ya sayang..” Ucapan Mba Nur yang membuat isakku semakin tak tertahankan turut membuat Mba Nur tidak dapat menahan air matanya karena tidak tega melihat kesedihanku yang begitu dalam.
Setibanya di rumah, aku masih menitikkan air mata yang perih. Begitu dalamnya hingga aku tak sanggup untuk membuka surat dari Bagas. Aku membaringkan tubuhku, meremas hatiku yang terasa semakin sakit, aku hanya bisa berucap meminta kekuatan dari Tuhan. Perlahan ku buka surat itu, dan hatiku semakin sakit dan hancur. Serasa dunia ini begitu berat membebani ragaku, seakan kebahagiaan sudah mati rasa untuk menghampiriku. Oh Tuhan tolonglah aku. Berilah aku kekuatan..
  

“Teruntuk sayangku,

Hallo sayang.. Bagaimana kabar kamu di sana? Sudah dua tahun aku ngga bisa nemuin kabar kamu, rupanya kamu sudah menonaktifkan semua akun media sosialmu. Padahal, cuma itu obat dari rasa rinduku agar aku masih bisa menikmati senyum manis kamu. Tapi aku harap kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Maaf aku sudah tidak bisa menjaga kamu belakangan ini. Maaf aku sudah membuat kamu menunggu lama di halte. Maaf ya sayang, aku menyembunyikan semua ini dari kamu. Maaf, karena aku telah membuatmu menderita. Percayalah sayang, aku jauh lebih menderita melihat kamu menderita karena aku. Dan maaf aku tidak bisa memeluk kamu lagi bahkan saat kamu menangis dipertemuan terakhir kita aku tidak membalas pelukanmu, sekalipun aku sangat ingin melakukannya. Maaf juga sayang, bidadari hatiku, karena aku tidak mengundang kamu di hari peristirahatan terakhirku..
Sayang.. Aku benar-benar tersiksa hidup tanpa kamu. Kehilangan kamu jauh lebih menyiksaku ketimbang penyakit ini. Kekasih hatiku yang selalu aku rindukan untuk aku peluk. Tapi sayang, aku cuma mau kamu menjalani hari-hari kamu mulai detik ini dan seterusnya untuk tetap bahagia meskipun tanpa aku. Itu permohonan terakhirku, sayang.. Berbahagialah demi aku.. Aku tahu dengan pasti, hati kamu masihlah untuk aku, karena akupun demikian. Tapi akan lebih membahagiakanku jika kamu bisa bahagia dengan duniamu yang baru. Doaku dari sini, namun hatiku tidak pernah jauh dari kamu sayang, selamanya.. I love you, as always.

Hatiku hancur bagaikan kepingan kaca yang tidak akan pernah bisa utuh lagi. Takdir yang hanya bisa menyiksaku tanpa memberiku kesempatan untuk mengamini bahagia. Entah berapa lama waktunya, aku bisa menerima kenyataan pahit yang mendukakan pikiranku siang dan malam? Kepergian kekasih hatiku rasa-rasanya mematikan inginku untuk mencintai lagi. Entah apa aku bisa, merasai cinta yang melebihi apa yang dia beri untukku. Karena bagiku dia adalah kesempurnaan yang sempurna yang pernah dititipkan Tuhan untukku..

Tuesday, January 24, 2017

Cerita Di Menit Kelima

            Aku berdiri ditengah sesaknya bus Transjakarta. Tak menyangka Hari Minggu pun akan seramai ini. Aku menghela nafas panjang dan tersenyum, mencoba menikmati penatnya hari-hari yang bersinggah menggerayangiku tanpa bosan. Aku dengan pikiranku yang berkecamuk tanpa henti, seakan dia tanpa lelah bekerja 24 jam dalam sehari. Aku melihat sekelilingku, wajah-wajah yang pastinya penuh dengan pikirannya masing-masing. Yah, aku tidak sendiri.. Aku tahu mereka menyimpan masalah mereka sendiri dalam pikiran mereka. Aku melirik ke arah ibu yang duduk didepanku. Usianya sekitar 46an tahun, sesekali dia memandangku. Aku menebak mungkin dia sedang memikirkan bagaimana ia dapat berperan sebagai ibu yang baik untuk anak-anaknya, mengkhawatirkan apakah anak-anaknya itu akan tumbuh menjadi orang yang sesuai dengan harapannya agar tidak menyusahkan kelak mereka dewasa. Tak berapa lama pandanganku beralih pada sosok wanita muda yang berdiri tepat disebelah kiriku. Pandangannya tidak pernah lepas dari handphone ditangannya sambil sesekali tertawa kecil. Sepertinya ia sedang jatuh cinta, atau sedang masa ‘PDKT’ alias pendekatan. Hahaha.. Mungkin saja..
            Aku melihat jalanan yang cukup ramai, melihat diluar banyak pengendara bermotor yang saling salib menyalib berusaha mencari celah agar ada diposisi lebih dulu dari yang lain. Hidup dalam hal apapun sudah terbiasa dengan kompetisi, tidak diragukan bahwa makhluk hidup memang memiliki kodrat untuk saling berkompetisi. seperti halnya kendaraan bermotor tersebut. Aku tertegun melihat satu pengendara motor yang terlihat sangat hati-hati berkendara. Wajahnya pucat pasi dengan kulit yang hitam legam. Hatiku tergerak menjadi iba melihat wajah rapuh itu. Wajahnya terlihat dipenuhi kecemasan dan keletihan. Tiba-tiba saja aku ingat wajah mama dan papaku. Mama yang sedari aku kecil berdagang dipasar untuk membantu ekonomi keluarga, sampai lelahnya membuat dia harus keguguran. Papa, yang bahkan harus berangkat subuh dan pulang hingga subuh. Kadang papa cerita betapa sulitnya mencari penumpang, karena sudah mulai banyak pengendara taksi di Jakarta tapi papa harus tetap mengejar setoran dan menahan sakit didada karena terlalu lama kena AC dan angin malam. Dan alangkah berkahnya jika Tuhan memberi sedikit rejeki sisa dari uang setoran untuk menafkahi kami. Dalam benakku aku menyimpan rasa syukur yang besar karena akhirnya pada dan mama tidak perlu lagi bekerja diluaran, karena sudah ada warung kecil-kecilan yang diusahakan orangtuaku untuk menghidupi keperluan mereka sehari-hari.

            Aku terdiam, seraya bersyukur aku tersenyum, bergumam dalam hati berterima kasih akan kebaikan Sang Pencipta hidup. Tiba-tiba saja mentari meredup termakan senja, awan menggantung ranum berganti kelabu. Rupanya semesta sore itu hendak mengundang hujan. Ingatanku menerawang mendadak menggalau. Kembali ku arahkan pandanganku ke sisi luar jalan, berusaha mengusir bayangan masa lalu. Tak disangka bertepatan aku menemukan sosok pengendara motor yang merupakan bagian dari masa lalu itu sendiri. Tidak salah lagi, derasnya hujan dan dengan wajah yang hampir seluruhnya tertutupi mantel hujan, aku masih bisa mengenali wajahnya. Seseorang yang bayangannya saja mampu menyita semua perasaanku. Seseorang yang tidak pernah berhenti merasuki dinding kalbuku. Entah takdir macam apa yang mengijinkan aku bertemu dengannya lagi. Mungkin dia tersadar juga, orang itu melihat pula ke arahku dan membuka kaca helmnya. Lampu merah yang seperti terhenti oleh waktu membuat semuanya semakin jelas dan lama aku bertatapan dengannya setelah sekian lama, kurang lebih enam tahun lamanya kami terpisah. Dia masih laki-laki yang sama. Dengan senyumnya yang terlihat dipaksakan dia melambaikan tangannya. Entah itu perasaan rindu ataukah hancur seperti yang aku rasakan, yang jelas kami tidak akan pernah ditakdirkan untuk bersama. Diwaktu 5 menit ini, aku begitu merindukannya, aku ingin memeluknya, tapi itu tidak akan pernah terjadi karena takdir tidak menginginkannya, Aku bergumam dalam hati sambil tersenyum, berbahagialah demi aku.. Semoga kisah dan takdirmu berakhir happy ending sekalipun tidak bersamaku.. 😊

Tuesday, December 20, 2016

My Diary, 201216

Hallo gaess.. Salam sejahtera! Sudah lama juga ya aku ga nulis di blog aku ini. Bukan karena ga ada yang ngunjungin sih (hahaha.. miris ya), tapi lebih kepada aku masih galau dengan kondisi papa aku pasca operasi dan sibuknya aku dengan kerjaan dan pencarian kerja aku. Sebenarnya aku lagi dalam kondisi hancur nih. Maksudnya, beberapa hari ini aku menerima penolakan dari lowongan pekerjaan yang aku tuju. Aku ga bisa ngeluh sama siapa-siapa, karena aku ga ada bakat untuk ngeluh didepan orang lain. Ya aku memang selalu berusaha tegar dan tegas, walau sebenarnya ada tersisip kerapuhan dalam diri aku. Masih sering sih aku nyari-nyari alasan kenapa sampai sekarang aku selalu gagal dan sulit menemukan apa yang aku inginkan, tapi sekarang aku makin sadar aku harus tetap berusaha, karena untuk itulah aku hidup. Aku diberi hidup oleh Tuhan bukan untuk mengeluh dan larut dalam kehancuran, tapi aku diberi hidup untuk bergerak. Tuhan saja berapi-api semangatnya untuk memberikan hidupnya bagi aku dan semua orang didunia, begitupun yang Tuhan mau untuk aku lakukan.
Dari sinilah awal langkahku yang sebenarnya baru dimulai. Karena hidup selalu dimulai dari langkah pertama dan selanjutnya, bukan dengan jalan ditempat. Aku hanya tidak mau terlalu lama terperangkap dalam kondisi yang ‘begini-begini aja’, aku harus bergerak. Aku sangat sadar bahwa aku sudah tertinggal jauh dari teman-temanku, dan tiap-tiap hari Tuhan mengingatkan dan memperlihatkan itu agar aku secepatnya bergerak. Sekalipun aku tidak pernah tahu kehendak Tuhan atas tujuan hidupku, tapi aku tersadarkan bahwa apapun yang aku lakukan harus senantiasa terfokus untuk memuliakan Tuhan dan menambah pertumbuhan imanku.

Untuk itu, aku mohon dengan sangat akan dukungan dan doa dari banyak orang, dari para keluarga, saudara, sahabat dan semua sobat yang mungkin membaca blog aku ini. Aku percaya setiap pencapaian yang diperoleh tidak akan pernah lepas dari banyaknya peran serta orang-orang yang ada dibaliknya. Secara khusus, peran terpenting Tuhan diatas segalanya dalam hidupku. Aku sangat bersyukur aku punya Allah yang luar biasa, sangat mengerti bentukan-Nya, rancangan-Nya, senantiasa untuk mendatangkan kebaikan. Sekali lagi, karena untuk itulah aku diberi hidup, agar aku dapat terus bergerak mengejar tujuan hidupku dalam memuliakan Tuhan diatas segalanya. Gelar Sarjana hanyalah salah satu sayap untuk aku bergerak, dan aku masih memerlukan banyak sayap untuk dapat meraih mimpi-mimpiku.

My Graduation (JCC, 29 November 2016)

             Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Lega rasanya, sekaligus pikiran ini penuh dengan langkah-langkah selanjutnya. Penantian yang cukup lama mengingat ini hal yang aku impikan setelah 10 tahun sejak aku lulus SMA. Akhirnya aku bisa memperoleh gelar sarjana aku oleh karena kasih dan kemurahan Tuhan. Aku tidak bisa tidur malam itu, bukan hanya membayangkan betapa baiknya Tuhan yang mengijinkan aku bisa dilantik sebagai wisudawan terbaik perwakilan Prodi (Program Studi) S1 Manajemen, tapi aku khawatir dengan kondisi kesehatan papa pasca operasi yang memaksakan untuk hadir dalam upacara pelantikanku. Aku berserah pada Tuhan, tapi tidak bisa dipungkiri, aku masih menyimpan kekhawatiran yang mendalam karena papaku malam itu juga tidak bisa tidur, tubuhnya masih kerapkali bergetar. Aku hanya meminta pada Tuhan agar papaku bisa kuat dan sembuh total.



Malam sebelum aku dilantik, aku menunjukkan undangan bertuliskan “VIP” kepada orangtuaku dan bisa dibayangkan betapa bahagia dan bersyukurnya mereka. Mungkin untuk saat ini baru itu saja yang bisa aku berikan untuk orangtuaku, sekalipun di mata orangtuaku, khususnya papa aku, aku selalu membuatnya bangga dengan semua yang aku lakukan. Begitulah papaku, apapun yang aku lakukan tidak pernah dia nilai buruk. Wajar saja, aku memang anak kesayangan papaku sejak dari aku lahir. Mungkin karena aku dulu sering sakit-sakitan, jadi aku lebih sering menghabiskan waktu kebersamaan dengan papaku, sementara mama fokus mengurus kakak dan abangku, juga adik aku yang masih bayi saat itu.
Dengan kekuatan dan pengharapaan penuh pada Tuhan, aku menjalani proses pelantikan wisuda dengan sukacita. Hal yang paling dramatis bagi aku adalah ketika aku memberikan bunga pada mama dan papaku dan aku tidak mampu menahan runtuhnya airmataku ketika papa bilang : “Ga sia-sia bapa bela-belain nahan rasa sakit bapa untuk bisa lihat boru bapa, boru bapa yang ga pernah berhenti membuat bapa bangga..”
Oh Tuhan, benar-benar sedih setiap mengingatnya. Mengingat betapa besar perjuangan papa dan mama untuk aku. Setiap pencapaian yang Tuhan ijinkan dalam hidupku tidak pernah lepas dari doa dan dukungan mereka. Aku sering merasa iri dengan keberuntungan orang lain, tapi semakin dewasa aku, aku semakin bersyukur bahwa kebaikan Tuhan tidak pernah habis dalam hidupku. Dibalik semua kegagalanku, kehancuranku, aku sadar betul bahwa aku memiliki banyak cinta yang mengeliling aku. aku memiliki orangtua terbaik, keluarga terbaik, sahabat-sahabat terbaik, aku juga memiliki kekasih-kekasih terbaik dalam hidupku. Yang aku yakini hingga sekarang hanyalah terfokus pada perjuangan karir masa depanku, aku ingin apapun yang aku lakukan akan membuat aku semakin memuliakan nama Tuhan. Sehingga lewat hidupku, aku bisa selalu jadi saluran berkat dan cinta kasih. Amin!

Tuesday, October 18, 2016

Happy Birthday My Pop

             Aku tidak terlalu banyak memiliki foto kebersamaan dengan papa ku. Papa ku adalah seorang yang tidak terlalu suka untuk di foto. Namun sebenarnya foto saja tidak cukup menggambarkan betapa besarnya kedekatan aku dengan papa. Dimataku, papa adalah segalanya. Papa adalah teladanku. Kebijakan, kesabaran, ketenangan dan kerendahan hati papa selalu menginspirasi aku. Aku ingat saat aku kecil dulu, setiap malam aku melihat ke arah pintu rumah menunggu kedatangan papa pulang kerja. Papa adalah satu-satunya orang yang ingin aku ceritakan tentang apa saja yang aku lakukan hari itu. Setiap papa pulang, papa akan langsung mencariku, dan menggendongku : “Mana boruku? Sudah makan belum kamu nang? Makan apa kamu tadi? Ga sakit tadi kamu kan nang?” Berbagai pertanyaan itu akan selalu tersimpan kuat dalam ingatan. Bagi papa, aku adalah boru kesayangannya sekalipun aku memiliki kakak yang usianya 4 tahun diatas aku. Hanya aku satu-satu nya nama yang tersimpan di kontak telepon papa dengan “Boru Bapa”.
            Masa kecilku memang tidak terlalu menyenangkan. Aku sering “di isolasi” dalam rumah. Aku tidak bisa terlalu banyak beraktivitas. Bayangkan saja disaaat kakak dan abangku jalan-jalan dari gereja, aku hanya terkurung di rumah. Tapi papa selalu menemani aku, papa menghibur aku. Aku tidak mengerti mengapa mama pergi jalan-jalan sama kakak dan abangku tapi aku ditinggal. Tapi papa memberiku pengertian bahwa mama dan papa khawatir sakit asmaku kambuh. Kadang aku suka mendengar papa dan mama bertengkar hanya karena sakit aku kambuh. Papa hanya panik. Kasihan mama membesarkan 4 orang anak yang masih kecil-kecil tidak akan mudah untuk mama jalani sendirian, tapi mama berusaha kuat. Dulu aku sering tidak terima mengapa mama sering marah, tapi saat aku mulai tumbuh aku mulai menyadari betapa mama sungguh bersusah payah mengurus kami sementara papa kerja. Kemarahan mama tetap tidak membuatnya menyerah membesarkan kami. Kasih sayang papa dan mama itulah yang menjadikanku sosok yang kuat dan tidak mudah menyerah.
            Papa adalah satu-satunya orang yang selalu bangga dengan apapun pencapaianku. Papa pernah bilang bahwa suatu saat aku akan jadi orang yang sukses. Papa selalu memberiku keyakinan bahwa aku pasti bisa menjalani apapun bentuk kesulitan yang aku hadapi. Aku ingat waktu tahun baru kemarin papa mengatakan :
“Bapa bersyukur, bapa punya anak-anak yang menyayangi bapa sama mama. Bapa bangga sama boru bapa. Dari Vhera lahir sampai diusia Vhera yang sekarang bapa ga pernah berhenti untuk bangga dan bersyukur Tuhan memberikan bapa boru bapa. Bapa tidak pernah khawatir, karena bapa percaya apapun juga yang kamu lakukan nang, bapa percaya itu adalah yang terbaik. Tiada henti-hentinya bapa berdoa untuk keberhasilanmu.”
Hingga detik ini, diusiaku yang sudah tidak lagi muda, aku belum bisa memberikan apa-apa untuk papa dan mama. Bahkan aku belum bisa memberikan kado terindah seperti yang papa minta dan ingatkan. Aku hanya tidak mau mengecewakan papa dan mama lagi dengan kegagalan pernikahan ku. Hal itulah yang membuat aku jadi lebih hati-hati. Tapi aku percaya, jauh di dalam lubuk hati papaku, papa hanya menginginkan kebahagiaanku begitu pula dengan mama. Aku percaya dalam doa-doa indah mereka, mereka menghantarkan doa yang sama setiap malamnya hanya untuk kebahagiaanku.
Gemerlapnya dunia orang lain tidak akan meruntuhkan rasa syukurku atas apa yang aku miliki, karena aku hampir memiliki segalanya. Hidupku yang sempurna dengan cinta kasih orangtua yang selalu ada dibelakangku untuk mendoakanku lebih berharga dari harta apapun yang ada didunia ini. Mungkin bagi sebagian orang cerita ini biasa saja, tapi bagiku ini adalah hal yang terindah karena aku bahagia, aku dicintai. Terlebih ini adalah sebagian kecil dari kisah haru masa kecilku yang hingga detik ini bahkan sampai kapanpun tidak akan pernah aku lupa.

Selamat ulang tahun My Pop.. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bersyukurnya Vhera memiliki bapa dan mama. Vhera berharap selalu dalam doa-doa Vhera agar bapa dan mama selalu berumur panjang, dalam keadaan sehat dan bahagia. Vhera sangat menyayangi bapa dan juga mama, Vhera percaya suatu saat Vhera akan memenuhi impian bapa. Amin.

My Pop (kiri) nyanyi bersama Apih (kanan) di acara pernikahan alm. abang

Monday, October 17, 2016

My Little Friend, Heiley

           Safa nama gadis kecil itu. Saat itu usianya masih menginjak 5 tahun. Sejak lahir dia sudah menderita asma, penyakit bawaan sang kakek dari garis mamanya. Saat sore hari itu, dia berdiri dibalik jendela rumah, hanya memandang dari kejauhan keceriaan kakak dan abangnya yang asik bermain bersama teman-temannya. Dia menangis merengek pada mamanya untuk diijinkan main diluar. Tapi seperti biasa, tidak pernah ada kata ‘iya’ dari sang mama. Dia menangis dan terus menangis. Sementara Heiley, anjing kecilnya hanya duduk mengusap-usap kaki Safa, berusaha menenangkan hati Safa dari kesedihan. Safa kecil memeluk anjing kesayangannya itu menahan senggukan, namun airmatanya tetap saja turun hingga berjatuh pada bulu Heiley. Heiley yang seakan turut merasakan kesedihan Safa-pun kembali mengusap-usap sambil meraung pelan. Mungkin hanya Tuhan, Safa dan Heiley yang tahu seberapa besar menyedihkannya saat-saat itu.
            Malam tiba dengan tergegas lalu, membaurkan keheningan bagai irama bersahutan. Mungkin ia berusaha untuk membuat hari itu berlalu dengan cepat sehingga Safa kecil tidak perlu merasakan kesedihan terlalu lama karena dengan datangnya sang malam, kakak dan abangnya akan menemaninya dirumah. Hingga ia tidak perlu merasakan kepedihan yang menyengat, menguasai hati dan pikiran masa kecilnya. Dan, sedikit saja dia bisa merasakan kebahagiaan indahnya memiliki kakak dan abang yang bisa menemaninya bermain menghabiskan sisa-sisa malam. Tapi tidak, kakak dan abang-nya terlalu sibuk untuk tugas pekerjaan rumah dari sekolah. Safa bertanya pada mama-nya kapan ia sudah bisa masuk sekolah. “Tunggu ya nak beberapa bulan lagi kamu genap 5 tahun, nanti baru kamu masuk TK”, jawab sang mama. Safa hanya terdiam sambil sesekali melihat ke arah pintu rumah berharap papa-nya segera pulang. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada sang papa. Ada banyak kekecewaan yang ingin segera dia akhiri. Bagi Safa, hanya papa-nya lah yang bisa memberikan jawaban itu mengingat sang mama selalu mengatakan kalimat ‘nanti tanya papa ya’.
            “Halo, mana boru papa?” Suara papa membuat Safa bergegas berlari melompat ke arah pelukan papa-nya. Safa tahu sekali bahwa papa-nya mencarinya. Karena dia selalu tahu bahwa ‘boru’ adalah panggilan kesayangan papa yang dikhususkan untuknya. Sekalipun Safa memiliki kakak perempuan yang usianya lebih tua darinya 4 tahun, tapi karena sakit yang dideritanya membuat papa selalu mengkhawatirkan kondisi Safa yang memang butuh perhatian khusus. Papa langsung memeluk dan mencium Safa seperti biasa dan menanyakan bagaimana kondisi Safa hari itu dengan banyak pertanyaan.
“Kambuh ga sakitmu tadi nak? Sudah minum obat belum? Makan banyak ga kamu tadi? Tadi main sama Heiley ya?” Tanya papa Safa penuh kecemasan.
“Kamu jadi beli empedu ular untuk Safa, Pa? Tanya mama yang menyusul ke arah ruang tamu.
“Ini papa sudah bawa ma. Kuat ga Safa ya makan beginian pahitnya minta ampun kata teman papa yang jual.” Jawab papa. Tiba-tiba Safa memotong pembicaraan mereka dengan kembali mengajukan pertanyaan yang sudah sedari tadi dia persiapkan untuk papa-nya.
“Papa, Safa mau sekolah. Kenapa sih Safa ga boleh main? Safa bosan dirumah, ga dikasih mama main diluar sama teman-teman.” Sahut Safa sambil kembali menangis.
“Bukannya gitu, nak.. Kata dokter kan kamu ga boleh cape, kamu nanti cape sedikit aja langsung kambuh, nanti papa sama mama yang sedih. Kalau kamu kambuh, papa dan mama yang menderita lihat kamu. Nanti kalau Safa sudah besar, sudah sembuh baru nanti kita jalan-jalan ya nak.” Jawab papa sambil menitikkan air mata memeluk Safa.
Seakan paham dengan kalimat yang disampaikan papa-nya, Safa kecil tertunduk dalam pangkuan merasakan kesedihan papa-nya yang begitu dalam karena penyakit yang dideritanya. Hampir tiap malam Safa tidak bisa tidur karena harus merasakan sesak yang mengganggu. Hingga saat waktunya tidur, seperti biasa tiap tengah malam tiba Safa merasakan sesak yang luar biasa. Padahal hari itu dia tidak banyak berlarian, hanya bermain dirumah bersama Heiley. Safa kecil berusaha menahan suara sesaknya, dia berjalan ke arah gudang menuju tempat Heiley tidur agar papa dan mamanya tidak mendengar nafas sesaknya. Tapi ternyata pintu gudang terkunci. Safa kembali ke kamar, tertelungkup memeluk bantal sambil berusaha menahan suara sesaknya. Papa Safa terbangun menyadari Safa yang mulai kambuh, lalu bergegas memberinya obat dan air hangat lalu menggendong anak kesayangannya itu. Safa mendengar papa-nya berdoa pada Tuhan dengan menangis, kata-kata yang tidak akan pernah Safa lupakan yaitu bahwa papa-nya meminta pada Tuhan agar mengangkat sakit anaknya itu, dan bersedia menggantikan dan menanggung sakit itu biarlah turun pada dia tapi jangan ke anak kesayangannya. Yang paling menyedihkan, bahkan papa-nya bersedia memilih mati asal anaknya itu bisa sembuh. Dalam hati, Safa hanya dipenuhi dengan banyak permohonan pada Tuhan. Seringnya dia mendengar papa dan mama-nya berdoa, membuat Safa menyadari bahwa Tuhan itu adalah seseorang yang tidak terlihat yang memiliki kantong ajaib seperti Doraemon yang bisa memenuhi apa saja keinginan orang yang memintanya. Dia hanya ingat papa-nya sering memberitahu bahwa Tuhan itu ada di Surga tempat orang-orang baik berkumpul, tapi bisa mendengar suara kita meskipun hanya dalam hati.
Keesokan paginya Safa terbangun lalu bergegas lari meminta mama membukakan kunci gudang, dia sudah tidak sabar untuk bermain dengan anjing kesayangannya, Heiley. Heiley yang juga seakan merasakan kerinduan yang sama dengan Safa, langsung memperdengarkan gonggongannya dan langsung berlari menghampiri Safa begitu pintu dibuka. Abang Safa dan kakaknya langsung terbangun dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Kasih makan dong de si Heiley-nya kasihan laper.”Seru Devon abang Safa. Safa langsung bergegas ke arah dapur untuk membuatkan Heiley makanan, tiba-tiba Safa mendengar kakaknya Lena sedang berbicara pada mama-nya didapur.
“Ma, emang kata dokter ga apa-apa kalau Safa main sama Heiley, takutnya bulunya Heiley tambah bikin dia kambuh..”
“Kan mama sudah tanyakan sebelumnya sama dokter, kata dokter ga apa-apa. Makanya mama nyuruh papa ambil Heiley dari rumah Om Krisna supaya bisa nemenin Safa jadi adikmu itu ada teman buat main dirumah. Om Krisna kan anjingnya dirumahnya banyak, jadi dia juga ga masalah kasih Heiley buat Safa.” Jawab mama.
“Oh begitu ya ma, Lena pikir ga boleh karena takut bulunya bikin Safa batuk dan sesak.”
“Heiley itu anjing aku, Safa ga batuk kok tiap deket-deket sama Heiley. Heiley kan sayang sama Safa.” Teriak Safa dengan polosnya seakan takut mama dan kakak-nya mengembalikan Heiley pada Om Krisna.
“Iya nak, mana tega mama jauhin kamu dari Heiley..” Ujar mama sambil nyuapin sarapan untuk Safa.
“Papa sudah pergi kerja ya, ma?” Tanya Safa kemudian.
“Sudah tadi, kamu kan maih tidur papa sudah berangkat buru-buru. Nanti kita ke dokter ya nak, obat kamu kan habis, ini kan jadwal kamu disuntik lagi.”
“Safa ga mau disuntik, ma.. Safa juga bosen minum obat terus. Kapan sih Safa berhenti minum obat?”
“Nanti kan kalau kamu sudah sembuh, kamu ga perlu minum obat lagi. Biar nanti kamu bisa masuk sekolah. Nanti kalau kamu ga minum obat dan ga mau disuntik, kata dokter nanti kamu makin lama sembuhnya.”
“Kok Safa lama sembuhnya sih ma.. Tuhan ga sayang ya ma sama Safa? Kakak sama abang ga sakit, tapi Safa sakit. Safa mau main diluar ma naik sepeda kayak teman-teman Safa..” Tiba-tiba mama Safa menangis mendengar ucapan anaknya itu, lalu membelai rambut Safa yang tebal dan mengepangnya. Heiley yang sedang menikmati menu makan pagi dari sahabatnya itu tiba-tiba berlari menghampiri Safa sambil menggonggong seakan turut merasakan kepiluan yang mendalam antara ibu dan anak tersebut.
            Safa mengajak Heiley bermain dihalaman depan rumah, namun selang berapa lama kemudian mama memintanya untuk masuk karena mama-nya akan pergi sebentar untuk mengantar abang dan kakaknya ke sekolah. Seperti biasa, Safa dan Heiley terkunci berdua didalam rumah, hanya menonton dirumah sambil bercerita dengan imajinasi yang hanya dirasakan oleh mereka berdua. Safa menikmati waktu kebersamaannya dengan Heiley, setidaknya dia tidak perlu merasakan terkurung lagi sendirian ketika mama harus pergi sebentar untuk mengantarkan kakak dan abangnya, atau sekedar ke warung, bahkan saat sedang masak didapur. Safa juga tidak mau merengek ketika mama harus meninggalkannya sendirian cukup lama. Dia tidak terlalu membebani mama dengan rengekkannya. Diusianya yang masih sangat kecil, dia menyadari keletihan mamanya. Kadang dia melihat mamanya menangis, bertengkar dengan papa hanya karena papa pulang tidak membawakan uang untuk bisa belanja kebutuhan sehari-hari, tidak jarang mama juga suka mengeluh tidak ada uang untuk beli obat untuk Safa dan bayar uang sekolah kakak dan abang Safa yang mengharuskan mama berhutang pada tetangga atau saudara. Safa sangat mengerti kesusahan orangtuanya. Untuk anak seusianya, pikirannya sudah terlalu matang untuk memahami apa yang terjadi.
            Safa mengajak Heiley ikut mengajukan permohonan pada Tuhan. Dia ingat papa dan mama-nya memejamkan mata dan melipat tangan saat berbicara pada Tuhan. Safa pun mengajarkan Heiley untuk melipat tangannya dan meminta Heiley untuk mengikuti doanya.
“Tuhan, kata papa Safa Tuhan itu ada ditempat orang-orang yang baik tapi Tuhan bisa dengar doa Safa. Tuhan, Safa ga mau lihat papa dan mama Safa sedih lagi. Boleh ga kalau Safa tinggal sama Tuhan di Surga? Safa janji ga nakal, Safa mau jadi orang baik. Safa sering susah nafas, rasanya sakit, papa dan mama selalu nangis. Safa ingin tinggal di Surga saja..”. Ucap Safa dalam doanya. Disaat yang sama, Heiley-pun mengajukan permohonan pada Tuhan.
            Tengah malam itu hujan turun dengan derasnya. Petir bersahutan meminta hujan untuk turun. Udara yang biasanya berdamai dengan alam dalam ketenangan, seakan mengiringi kedatangan hujan ke bumi hingga membuat berangin riuh seakan hampir membeku. Malam itu Safa tidur nyenyak sekali. Papa dan mama Safa berjaga dari tidur khawatir dinginnya malam membuat Safa kambuh dari sakitnya. Tapi, malam itu Safa sama sekali tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda kesulitan bernafas. Hingga subuh papa dan mama Safa terjaga, namun anehnya Safa tidur terlihat sangat lelap tidak seperti malam-malam biasanya.
“Ma, Safa puji Tuhan ya ga ada tanda-tanda sesak nafasnya.”
“Iya ya pa, aneh ya, mama sangat bersyukur semoga saja ini jawaban doa kita selama ini pa. Kasihan Safa dari bayi sudah menderita, mama juga ga tega lihat Safa divonis asma akut sama dokter itu kayak mimpi buruk rasanya ya pa.”
“Iya ma, semoga saja Tuhan dengar dan kabulkan doa kita semua.” Ucap papa mengaminkan.
            Mendungnya pagi yang datang seakan masih menyisakan sisa-sisa hujan semalam. Aroma tanah yang tersirami menebarkan baunya yang khas. Safa kecil bergegas terbangun. Hari itu tumben sekali dia melihat papa-nya belum berangkat kerja. Papa, mama, kakak dan abangnya terdiam diruang dapur dan tetap terlihat murung saat kemunculan Safa yang ceria.
“Hore papa ga kerja ya? Safa semalam ga sakit, pa. Papa mau nemenin Safa jalan-jalan ya? Ayo pa Safa mau jalan-jalan kita ajak Heiley ya pa..” Papa menghampiri Safa, langsung memeluk dan menggendong Safa.
“Nak, Heiley sudah ikut Tuhan di Surga..”
“Ga kok pa, semalam Safa mimpi jalan-jalan sama Heiley. Makanya ayo pa kita jalan-jalan. Bareng mama, Abang Devon sama Ka Lena.” Jawab Safa dengan bersemangat.
“Iya sayang benar kata papa, Heiley sudah ikut Tuhan untuk jagain Safa dari Surga..” Ucap mama menghampiri sambil mencium kening Safa.
“Mama sama papa bohong! Safa mau ke kamar Heiley, bukain dong pa..” Mohon Safa. Papa mengantar Safa ke halaman belakang rumah tempat Heiley dikubur.
“Sekarang Heiley bobo nya disini nak. Biar dia bisa tetap jagain Safa dan keluarga kita.”
“Safa ga mau!!! Safa maunya main sama Heiley. Safa ga mau, papa.. Bangunin Heiley pa, jangan tidur disitu nanti Heiley ga bisa nafas kayak Safa..” Teriak Safa sambil tiada hentinya menangis. Wajah mungilnya memerah, menahan pedih yang tidak terucapkan. Safa ingat sekali baru kemarin ia berdoa bersama Heiley, memohon pada Tuhan agar Tuhan membawa Safa ke Surga. Tapi kenapa Heiley yang justru Tuhan ajak ke Surga? Apakah Safa bukan orang yang baik jadi Tuhan lebih memilih Heiley yang tinggal sama Tuhan di Surga? Ataukah saat itu, Heiley memohonkan doa yang lain? Doa yang meminta pada Tuhan agar Tuhan menyembuhkan sakit Safa dan bersedia menggantikan nyawanya untuk kesembuhan Safa. Pengorbanan nyawa seorang sahabat demi memohonkan hidup sahabatnya, karena cinta seorang sahabat untuk sahabatnya yang tidak terkatakan. Sebuah nilai kemurnian yang hanya dapat dikenal lewat hati karena sejak saat itu, Safa tidak lagi menderita atas penyakit yang selama ini divonis atasnya. Safa sudah tidak pernah merasakan sesak pada nafasnya. Safa mulai bebas beraktivitas bermain bersama kakak dan abangnya, juga bersama teman-teman sebayanya. Safa sudah tidak perlu lagi bergantung pada obat-obatan, suntikan, apalagi bantuan pernafasan lewat oksigen. Safa kecil sudah pulih total.
Mungkin hujan yang turun tengah malam itu hendak menghantarkan pesan kepedihan perginya Heiley dari hidup Safa..

Thursday, October 13, 2016

Menunggu..

            Bagi aku atau mungkin bagi sebagian besar orang, hal yang paling ga banget dan bikin super duper boring adalah MENUNGGU. Jadi inget waktu ngalamin suka dukanya jadi mahasiswa. Salah satu yang bikin sedih sesedih-sedihnya adalah kita sudah buru-buru balik kerja demi bisa ontime sampai kampus, rambut sudah acak-acakan (untung aja ga bau keringet ya sorry aku sih no ya..). Pas buka pintu sik asik dosen belum datang, terus langsung deh nyiapin singgasana paling depan (maklum, biarpun sudah pakai kacamata tapi pendengaran agak kurang peka gitu).
Tik tok tik tok, 15 menit okelah ya macet bokkkk tahu sendiri Jakarta, 25 menit aura-auranya sudah diparkiran nih. Tapi kok di telponin tulalit ya alias ga aktif. Pas 30 menit, oh mungkin beliau dari parkiran terus agak-agak lelah sampai bingung dan tersesat hingga ga tahu arah jalan kampus (bisa jadi, bisa jadi..). Dan menjelang 40 menit kurang 3 detik, taraaa ada informasi bahwa Mr. XYZ telpon memberitahukan beliau berhalangan hadir. Agak miris sih ya tapi berhubung dosen-dosen aku ga pernah sewot apalagi ngamuk kalau aku telat karena memaklumi para mahasiswa pekerja yang datang telat (asal tahu batasannya juga ya kalau jadi mahasiswa, discipline is the must) jadi it’s okelah yah, ini yang namanya saling memahami antara mahasiswa dan dosen apalagi dosen adalah salah satu penjembatan langkah suksesku (sadisss bahasa eike).
            Dalam dunia kerja, aduh aduh apalagi yah yang namanya menunggu itu, blablabla.. BIASA! Demi sesuap nasi yang ga habis-habis, seperangkat kekayaan pribadi dan sepiring berlian yang belum kumpul-kumpul, tetap harus semangat dong ya. Nah jangan salah, dalam pertemanan juga yang namanya menunggu itu biasaaaa banget! Yah kayak yang aku alamin ini nih.. Tahu sendiri dong ya hari ini hujan, dingin dan macet mencekam, baju lepek, dan lain sebagainya. Sepanjang perjalanan tetap usaha mastiin:
A: “(18:30) Sudah dimane lo? Gw sudah nyampe nih, buruannn gw laper, gepeel ye!”
T: “Iye ini dikit lagi, lo pesen aja dulu, nanti gw nyusul.”
A: “Lo mau gw pesenin sekalian ga? Berape menit lagi kira-kira?”
T: ----
Hingga setelah 1 jam lewat 20 menit-an lamanya aku nunggu, makanan sampai kering akibat ga nafsu, khawatir teman tersayang kenapa-kenapa dijalan, beliau kirim pesan :
T: (19:53) “Sorry cong kayaknya gw ga jadi deh, baju gw basah banget nih padahal gw sudah pake jas hujan, next time aja ya bok gw sudah otw arah balik pulang. Jangan marah ya bu, nanti cantik lo luntur kebawa hujan, oke? Ttdj ya, love u, muaccchhh..”
Parah ga tuh dalam dunia pertemanan aja masih berasa agak kejam. Tapi, berhubung aku sudah terlanjur punya image Miss Bijak, aku jawabnya harus tetap jaga wibawa dong ya.. (Hahaha lebay).
A: “Iyalah bu ga papa, ini gw otw ke rumah lo kok. Kita ketemu disana ya.. See u, muachhh..”


*********

Sunday Diary, 280118

Dear Diary.. Tiba-tiba saja koko menghubungiku lagi. Entah harus senang atau tidak, yang jelas perasaanku mulai datar. Bahkan aku memutusk...