Saturday, January 27, 2018

Sunday Diary, 280118

Dear Diary..
Tiba-tiba saja koko menghubungiku lagi. Entah harus senang atau tidak, yang jelas perasaanku mulai datar. Bahkan aku memutuskan untuk tidak membalasnya. Saking lamanya kami tidak komunikasi aku hampir lupa pernah punya dia di hidupku. Terakhir  kali saat itu adalah event natal sampai tahun baru adalah libur panjang. Di tanggal 31 Desember 2017, aku buru-buru pulang agar bisa bertemu dan menikmati makan malam di momen tahun baru berdua saja dengan dia. Tapi dia tidak tahu bahwa aku menghubunginya karena aku sudah di Kuningan Jakarta pada pukul 16:00. Aku menanyakannya apakah sudah ada rencana di malam tahun baru ini (mengingat sebelumnya dia mengharapkan aku kembali ke Jakarta sebelum malam tahun baru karena ingin bersama aku di momen tersebut).  Dan nyatanya jawabannya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Mungkin dia sudah ada janji baru untuk menghabiskan malam tahun baru dengan orang yang lain. Aku memang sangat sedih saat itu, aku bergegas pulang tapi nyatanya dia bahkan tidak menanyai lagi kepulanganku. Aku ibadah penutupan tahun baru seorang diri, sementara orang tua ku masih di kampung halaman. Saat itulah terpikir olehku, Tuhan masih mengijinkan aku untuk sendiri dulu.

Dear Diary..
Sebulan berlalu seperti yang aku duga, koko akan menghubungiku. Sebelumnya setelah tiga minggu, dan sekarang setelah empat minggu dia hubungi aku lagi. Tapi kali ini sebaiknya aku tidak perlu membalas pesannya. Aku pun harus move on dari koko. Aku sudah tidak memiliki hasrat untuk stalking beliau dan semuanya pun sama karenanya aku sudah menonaktifkan akun facebook-ku mungkin untuk selamanya. Aku sudah kehilangan rasa rindu. Sepertinya Tuhan sudah mengabulkan doaku, untuk tidak lagi mengharapkan serta merindukan para mantan. Aku sangat sadar sebagian masa lalu adalah bagian dosa terkelamku. Aku mau memulai hidup yang baru dan belajar menjalani kekudusan. Mantan adalah hal terburuk yang pernah aku miliki tapi pembelajaran berharga untuk aku semakin bertumbuh. Aku tahu Tuhan menghadirkan sesuatu atau seseorang dalam hidup kita pasti untuk maksud tertentu. Mungkin sebagai hadiah atau bisa jadi sebagai ujian untuk menguji iman kita. Saat ini yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya supaya Tuhan percaya bahwa aku mau berubah. Percaya bahwa aku mau belajar untuk tunduk dan taat. Sangat sulit menjalaninya karena kelemahanku yang sangat besar membuat aku sering jatuh. Tapi aku akan berusaha lagi dan lagi.

Dear Diary..
  • Doakan aku juga ya. Suatu saat nanti, aku pasti jadi pribadi yang jauh lebih baik. Setelah aku miliki semua kondisi yang benar-benar steady, jika Tuhan mengijinkan aku hanya ingin hidup hingga menua bersama dengan dia yang kepadanya hidupku merasa lengkap dan sempurna. Laki-laki yang selalu peduli pada masa depan dan kebahagiaan keluarganya dan selalu berjuang untuk itu. Pasangan hidup yang seimbang yang Tuhan karuniakan yang dengan ketaatannya akan membawa kami sama-sama semakin dekat dengan Tuhan. Laki-laki yang selalu mendukung dan percaya padaku bahkan ketika tidak ada satupun yang mempercayaiku. It's really sweet and perfect, huh? Semoga Tuhan berkenan atas doa-doa indahku ini. Dan Tuhan  paling tahu apa yang jadi kebutuhanku dan Dia selalu tahu yang terbaik. Amin.

Sunday, January 21, 2018

Sunday Diary, 210118

Dear Diary..
Hari ini aku tidak akan bicara tentang hal yang 'galau'. Hari minggu ini ada banyak hal yang terjadi. Dari peristiwa yang memalukan, menyukakan sampai peristiwa yang menyedihkan juga ada. Meskipun tulisan-tulisanku selalu membosankan untuk dibaca, tapi setidaknya setelahnya aku lega. Puas rasanya mengutarakan semua yang tersimpan di hati. Meski tidak semua sih.. Hari ini ketika aku berangkat ibadah selepas turun dari gojek, aku tidak sadar kalau rok dress aku agak ke angkat pas turun. Haha.. Untung saja ada satu ibu berjilbab yang baik hati sudah memberitahu aku. OMG memalukan sekali rasanya sampai muka ini terasa panas. Inilah kenapa aku sebenarnya tidak terlalu menyukai pakai dress dari dulu. Tapi aku lebih cantik memang setiap pakai dress (pede banget yah..).

Setelah tiba di tempat ibadah yang memang aku kejar sesempat mungkin ikut ibadah yang pukul 16.00 WIB and guess what?? Puji Tuhan aku sempat loh sampai di sana meskipun telat 7 menit tapi paling tidak, aku tidak ketinggalan sesi penyembahan yang aku nanti-nantikan banget. Aku tahu ada banyak mata yang memandang ke arah kedatanganku yang sedikit berlari ketika mencari tempat duduk yang sebisa mungkin dapat posisi strategis. Untungnya lagi, ada 1 bangku yang kosong di barisan 3. Tempat duduk langganan aku. Aku bersyukur Firman Tuhan yang aku dapat hari ini sangat memberkati seperti biasanya. Ada pengharapan baru yang membuka mata dan pikiranku dan itu sangat menyukakan hatiku. Seperti hatiku disirami dengan sangat hebat oleh kebaikan Tuhan. Damai sejahtera itu mengaliri hatiku dan aku bersukacita karenanya.

Aku bersenandung sepanjang perjalanan pulang. Aku memainkan nada-nada dan sesekali merangkai kata siapa tahu aku bisa menciptakan lagu baru dari semua melodi kesukaan di hatiku. Oh seandainya aku bisa memainkan alat musik. Aku rindu suatu hari nanti aku bisa membeli sebuah piano or keyboard untuk aku pelajari sambil aku kursus musik. Aku rindu bisa menciptakan banyak lagu pujian dan penyembahan untuk Tuhan. Aku rindu bisa berkarya bagi kemuliaan Nama-Nya. Semoga Tuhan mengindahkan doa-doaku. Amin, pasti aku percaya! Semakin dekat aku dengan Tuhan semakin aku menyadari bahwa inilah talenta yang harus aku kembangkan. Aku tahu ada banyak kegagalan yang datang dalam hidupku dan itu adalah hal biasa. Yang luar biasa adalah bahwa Tuhan tidak pernah memalingkan wajah-Nya untuk mengasihi aku. Sekalipun sisi kedaginganku kadang buat aku bad mood sampai melukai perasaan orang lain atau tidak menunjukkan kasih yang Ia ajarkan kepadaku. Aku menyadari bahwa aku harus berubah. Aku harus bisa mengendalikan diriku dan tetap berpegang pada apa yang Tuhan kehendaki untuk aku lakukan dalam hidup ini.

Hari ini di saat malam-malam ini, aku menyaksikan ada hal yang tidak mengenakkan hati. Aku berpikir, kadang aku merasa jenuh karena aku dikelilingi oleh lingkungan yang hanya bisanya melemahkanku. Teman-teman yang nyatanya membuat aku sepi dan kosong karena hanya memikirkan diri mereka sendiri dan mudah untuk saling berbicara keburukan orang lain. Ah aku pikir sebaiknya aku menjaga jarak dengan orang-orang seperti itu sekalipun aku tidak membenci mereka. Aku hanya tidak mau dikelilingi oleh orang-orang yang negatif. Orang-orang yang juga meremehkanku, memandangku sebelah mata. Aku sadar betul aku bukanlah manusia yang sempurna, tapi aku juga tidak pernah berpikir untuk berhenti berjuang. Mereka tidak pernah tahu karena hanya aku dan Tuhan yang paling tahu aku. Namun bagaimanapun mereka adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku sudah terlanjur menyayangi mereka dan sama sekali tidak ada benci ataupun kepahitan di hati ini terhadap mereka. Untung saja aku masih dikelilingi oleh orang-orang baru yang lebih layak aku anggap teman. Mereka yang selalu menanyakanku "Kak Vhera sudah pulang? Kak Vhera makan biar gemuk." Kami sudah seperti keluarga tanpa saling menuntut. Tidak ada egois hanya tahu saling berbagi dan saling memperhatikan satu sama lain. Saling menyatukan kesenangan.

Aku bahagia. Mensyukuri ada banyak hal-hal ajaib yang Tuhan nyatakan dalam hidupku. Aku tahu Tuhan paling tahu apa yang jadi kebutuhanku. Dia menghiburkan aku saat di dalam kesesakan. Dia menolongku dan membuka mataku. Aku sadar setiap orang pasti mengalami kehilangan. Orang-orang akan pergi dari hidup kita satu per satu. Dan aku bersiap menghadapi perubahan. Termasuk orang-orang yang aku kasihi akan berubah kasihnya kepadaku. Mereka mungkin akan melupakanku, meninggalkanku, membenci aku atau bahkan tidak akan menemui aku lagi. Hanya Tuhan saja yang tidak pernah berubah. Dia akan selalu sama, selalu akan menyertai aku. Satu-satunya Pribadi yang Kasih-Nya tidak pernah berubah. Thanks to Jesus, my God Almighty for everything in my life. I know exactly, He will never leave me alone. He always protect me and blessing me every season of my life. Amin.

Saturday, January 13, 2018

Aku, Hujan dan Kesedihanku..

Dear Diary..

Tiba-tiba saja hujan turun. Di saat yang sama aku mengingat dirinya. Di iringi lagu "Kau Harus Bahagia"-nya Sammy rasa sakit itu membuat aku tidak tahan untuk membiarkan air mataku turun. Berjalan di tengah hujan seperti ini, aku menengadah ke langit yang kelabu. Menuliskan namanya dan namaku, semakin membuatku menitikkan air mata. Aku tahu, sekalipun suatu saat aku bertemu dengannya, tidak akan pernah merubah apapun. Tidak akan pernah menyatukan semua yang telah menjadi kepingan yang tak bersisa.

Diary..
Sekalipun mungkin suatu saat waktu kembali berpihak untuk mempertemukan kami, kami adalah orang asing yang sama-sama tidak ingin saling mengenal kembali. Tidak pernah akan ada tangan yang saling merengkuh. Tidak pernah akan ada hati untuk mengejar kembali apa yang pernah terlepas. Mungkin hanya kebodohanku yang mengijinkannya untuk bahagia dengan orang yang lain. Seharusnya aku marah dan memaki dia dan kekasih barunya, tapi entah kenapa aku malah tersenyum. Aku tahu, cintaku untuknya tidak cukup besar untuk membuatnya bertahan.

Diary..
Walau awan menangis melihat kesedihanku, jangan biarkan mendungnya tinggal pada orang yang aku cintai. Aku sudah terbiasa dengan sepi. Terbiasa menjalani kesendirian yang tak bertepi. Terbiasa menari di tengah dinginnya hujan. Tapi untuk dia, biarkanlah dia dicintai agar ia tak merasa sepi. Aku ingin ia selalu merasa hangat. Maafkan aku, karena cintaku yang tidak cukup besar untuk menembus langit. Tidak cukup besar untuk mengetuk hati Tuhan agar Ia menghilangkan cinta ini. Tuhan yang tahu betapa besar harapanku untuk menemukan takdirku dan menjalani masa depan bersama dengan cinta sejati yang Ia janjikan untuk melengkapi hidupku. Sekalipun, bukanlah bersama dirinya..

Friday, January 12, 2018

Diary, 130118

Dear Diary..
Hari ini aku menutup akun Facebook-ku lagi. Bahkan aku sudah menghapus aplikasi hampir semua social media di handphone-ku. Tidak ada lagi kabar yang bisa aku dapat selain melalui BB messenger. Aku tahu dia tidak akan menghubungi aku lagi. Aku tahu hilangnya aku dari hidupnya tidak mengkhawatirkannya lagi. Sekarangpun dia tidak perlu mengajak aku ibadah bareng lagi. Aku tidak lagi dapat menyentuh wajahnya, melukisnya perlahan diingatanku. Tidak lagi dapat menertawakan kekonyolannya yang kadang seperti anak kecil namun tak membuatku berhenti mencintainya. Aku tidak boleh lagi merindukan kehangatannya. Aku sadar betul dia kini sudah bersama dengan orang yang lain. Orang yang sepadan di sisinya. Aku juga tidak perlu lagi merasa marah karena kesibukannya dan diapun tidak perlu lagi menyuruhku untuk tidak begadang, telat makan dan tidak perlu lagi repot menggendongku saat aku berpura-pura letih. Walaupun dia tahu bahwa aku hanya ingin bermanja, dia tidak pernah bereaksi keberatan dengan semua itu.
Kadang aku merasa marah setiap dia bersikap manis pada semua wanita, tapi dia hanya meraih tanganku tanpa berucap sepatah katapun. Dia selalu punya cara agar aku percaya tanpa perlu bersikeras meyakinkanku. Kadang dia bercerita banyak hal yang tidak aku mengerti namun aku tetap mendengarkannya. Aku senang mendengar dia bercerita semua hal dan aku sangat menikmatinya. Aku bahagia bisa mendengar suaranya, bahagia bisa memilikinya dalam hidupku. Dan aku sangat ingin setiap hari bisa menikmati kebersamaan bersamanya. Hanya saja, aku tidak cukup sempurna untuk bisa membahagiakannya. Selama ini aku menghindarinya untuk tidak semakin mencintaiku karena aku tidak ingin membuat dia terlibat dalam penderitaanku. Namun ternyata, tahun demi tahun berlalu dan aku tetap saja tidak mampu berhenti untuk memikirkannya.
Setiap kali aku melihatnya bahagia bersama dengan orang yang sekarang ia cintai, aku tersenyum bahagia. Aku turut larut dalam kebahagiaannya. Aku sadar aku bukanlah wanita yang terbaik untuk mendampinginya, aku juga mungkin tidak pantas untuk merasai cintanya. Sekalipun, aku sangat ingin, benar-benar sangat ingin menjadi ibu bagi anak-anaknya. Aku ingin melayaninya hingga kami sama-sama menua. Aku ingin mendampinginya, mendengarkan semua ceritanya, keluh kesahnya, kebosanannya, kemarahannya, keraguannya. Aku ingin dia selalu menyiapkan air hangat untuk aku mandi, mengajak aku kencan setiap akhir pekan, memasak makanan yang tidak aku suka dan serba hambar. Aku ingin menjadi wanita satu-satunya yang ia ajak untuk nonton konser, teater dan festival Jazz seperti biasanya. Aku mencintai semua yang ada pada dirinya, kekurangan dan kelebihannya selalu membuat aku tidak menyerah untuk mencintainya. Namun nyatanya, keadaan yang membuat dia akhirnya memutuskan untuk mencintai orang yang lain. Aku tidak dapat menyalahkannya, karena aku hanya ingin ia bahagia dengan apapun yang ia jalani saat ini.

Aku sadar, aku bukanlah orang yang seperti dulu. Usia lambat laun membuat aku semakin mudah mengerti, mudah untuk menerima. Karena tidak semua yang aku ingini bisa menjadi milikku. Aku hanya perlu melangkah maju dan bertahan, meyakini bahwa Tuhanlah yang paling tahu hal dan waktu yang terbaik untuk diriku dan masa depanku. Aku bersyukur karena Tuhan memampukan aku untuk lebih bisa mengendalikan diriku. Aku tahu betul jalanku mungkin tidak akan pernah mudah untuk aku lalui, asal saja aku tetap positif dan percaya akan kebaikan serta penyertaan Tuhan dan mengingat segala hal-hal ajaib yang telah Ia nyatakan dalam hidupku, aku pasti bisa menghadapi semuanya. Dan aku akan selalu siap untuk menjalani apapun yang Tuhan kehendaki untuk aku terima karena pastilah itu yang terbaik bagi hidupku.

Sunday, August 27, 2017

Kita Sedang Bercanda

Kita sdg bercanda
Diantara laut yg berdesir
Ada cerita kita menyemai mimpi
Disanalah jiwa luguku mengharu

Kita sdg bercanda
Di bawah mentari panas
Atau hujan yg membasah
Kesanalah kita mengukir byk tawa

Kita sdg bercanda
Saat mulai menuntut sempurna
Dan jalan kita tak lagi sama
Janjilah yg buat kita kembali

Takdirpun mulai bercanda
Diantara ruang yg berjarak
Dan waktu yg memudarkan kita
Saat itulah kita terdera utk menyerah

Kita tak lg sdg bercanda
Tdk lg butuh yg sempurna
Krn cinta tdk pernah menuntut janji
Dia hanya ada utk memberi bukti

Saturday, August 19, 2017

Diary 190817

            Suatu hari di daerah Kuningan ketika saya sedang buru-buru mengejar 5 menit sebelum acara ibadah dimulai. Seorang ibu dengan kisaran usia 56 tahun tiba-tiba meraih tangan saya.
“De, tolong saya ikut nyebrang ya, saya ga bisa jalan dengan sempurna.” Saya lihat kaki kanan ibu tersebut tidak sempurna (agak bengkok). Langsung saja saya genggam jari-jari tangan ibu itu dan melipatkannya di jari-jari saya. Dalam hati saya bilang, maaf Tuhan aku terlambat, persabarlah langkah aku yang terbiasa jalan cepat sebentar saja. Seketika saja, hati ini merasa teduh sekali.
“Mau kemana de?” Tanya ibu itu tiba-tiba.
“Mau gereja bu.”
“Di Duta Injil ya?”
“Iya bu di lantai 5. Kok ibu tau?”
“Saya sudah ibadah tadi pagi di GPIB Kalimalang. Kadang saya juga suka gereja di Duta Injil.” Agak kaget juga saat tahu sang ibu kebetulan beragama Kristen.
“Oh saya juga kalau ke rumah ortu saya gereja di GPIB Jati Asih, Menara Kasih bu.”
“Oh ya?? Trus, kenapa gereja sendirian?”
“Iya bu, dulu suka sama temen, tapi sekarang dia sudah ‘pindah’. Ibu sendiri ada keperluan apa jauh2, kenapa sendirian, ga ada yang anter bu?”
“Saya cuma mau servis Hp saya di lantai dasar. Nama saya Marni, nama kamu siapa de?” Nih ibu namanya kebetulan sama kayak opung boru saya.
“Saya Vhera bu.”
“Oke Vhera, saya sampai sini aja, makasih ya sudah anter saya. Tuhan berkati.”
“Oh iya bu hati-hati ya, Tuhan berkati juga.”
“Sampai ketemu lagi ya Vher..” Wah puji Tuhan, senang kalau ada yang bicara kalimat ini.

            Tanpa membuang waktu saya langsung berlari melaju ke eskalator menuju lantai 5 setelah melihat banyak yang mengantri di depan lift. Yup ternyata waktu yang seakan melambat tadi, Tuhan berikan saya waktu untuk tiba ontime. Haleluya..

Friday, August 18, 2017

Pacarku, Dosenku

Dear Diary..
            Aku menulis lagi. Setelah cukup lama ku tutup rapat-rapat cerita ini dalam diam. Aku banyak kehilangan waktu dalam endapan lara ini, dan aku berjuang untuk menanggalkannya perlahan. Entah berapa masa yang terbuang percuma, aku seperti melukai diriku sendiri. Terhempas dalam pelataran asa yang tak bergeming walau coba berkali ku sentuh. Aku mencoba mengembalikan ingatanku pada setiap sudut wajahnya. Merasai kehangatan senyumnya yang membuat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada pandangan pertama. Laki-laki yang usianya 8 tahun lebih tua dariku. Dan kisah ini berlangsung saat aku kuliah 3 tahun yang lalu.
“Kamu kalau jalan hati-hati dong..”
“Maaf pak, saya tidak sengaja.” Ku lihat tubuh jangkungnya yang berdiri tegap didepanku. Wajah orientalnya yang datar dengan suara tegasnya tak membuatku takut sedikitpun. Sebaliknya, hatiku berdegup kencang bagai desiran ombak yang meronta mengairi pembuluh darahku. Perasaan yang tidak bisa aku beritahu pada siapapun termasuk para sahabatku. Apa kata mereka nantinya jika mengetahui bahwa aku mencintai dosenku sendiri.
            Aku menantikan saat-saat jam mata kuliah dia di hari Sabtu, walaupun aku hanya bisa melihatnya seminggu sekali itu tak meruntuhkan kebahagiaanku. Dan sekalipun aku hanya bisa melihatnya di kejauhan, aku masih bisa mengukur detail postur tubuhnya. Butuh waktu satu tahun untuk bisa memberanikan diri menceritakan perasaan cintaku pada para teman dekatku. Dan untung saja, mereka paham alasan aku untuk tidak menceritakan mereka mengingat saat itu dia masih mengajar di kelasku.
“Hah?? Lu suka sama Pak Wijaya? Yang bener aja, dia kan udah tua, rambutnya aja udah ubanan. Masa bisa-bisanya lu suka sama orang yang udah punya bini kayak gitu sih Sil?” Tanya Ima tak percaya.
“Tau ih gue juga bingung, kok bisa ya suka sama orang kayak Pak Wijaya yang super duper dingin dan pelit nilai itu." Tambah Vero.
“Yah nggak tau namanya juga perasaan, mana bisa gue kontrol cong..”
“Mau gue salamin nggak Sil? Tuh ada orangnya noh lagi milih makan.” Goda Hanna yang lantas membuat nyaliku melemah. Aku tahu betul Hanna orang yang tanpa ragu mengaplikasikan apa yang dia katakan. Aku berusaha menyembunyikan wajahku ketika aku lihat Pak Wijaya melirik ke arahku setelah Hanna menghampirinya. Untung saja tubuh Novi sedikit menutupi aku, jadi aku yakin betul Pak Wijaya tidak sempat mengetahui the secret adimirer-nya itu adalah aku.
            Setelah sekitar 2 bulan lamanya aku tidak bisa melihat wajah Pak Wijaya karena libur semester, aku terpikir untuk mencari akun Facebooknya, dan langsung ketemu. Betapa senangnya hatiku saat itu, terlebih saat Pak Wijaya langsung mengkonfirmasi permintaan bertemanku. Dan tanpa aku sangka, Pak Wijaya langsung mengirimkan pesan messenger untukku.
“Kamu sudah skripsi?”
“Wah baru juga masuk pak, sudah skripsi aja..”
“Oh kirain kamu sudah mau lulus. Memangnya kamu semester berapa?”
“Baru semester 5 pak. Bantuin ya pak kalau nanti kelarin skripsi.”
“Iya, kamu tanya aja nanti saya bantu.”
“Wah makasih loh pak..”
“Punya no WA? Kirim sekarang.”
“08581******* pak.”
            Sejak saat itu hubungan kamipun semakin dekat, bahkan lebih dari dekat terlebih sejak aku tahu Pak Wijaya masih single. Hubungan yang aku tahu tidak seharusnya terjadi antara dosen dengan mahasiswanya. Tapi perasaan ini adalah murni, bukan untuk mengharapkan nilai A. Karena aku tidak lagi di bawah pengajaran Pak Wijaya. Aku sudah terlebih dulu memperoleh nilai kelulusan A dari mata kuliah Pak Wijaya sebelum kami menjalin hubungan. Dan nilai itu adalah hasil dari kerja kerasku dan campur tangan Tuhan. Hal yang cukup lucu bagiku adalah saat tiap kami bertemu secara diam-diam sepulang jam kuliah untuk menikmati kencan kami di setiap hari Sabtu. Hal tersebut untuk menjaga profesionalitas Pak Wijaya sebagai dosen dan aku yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Aku tahu ada beberapa dosen yang mengetahui kedekatan hubungan kami, karena Pak Wijaya kerapkali memberi komentar pada hampir setiap post yang aku kirimkan di Facebook.
            Masa-masa indah yang tak akan pernah mungkin aku lupakan. Sulit rasanya membayangkan aku bisa bersama dengan orang yang aku cintai, dosen yang terkenal tegas dan dingin seperti dia dalam hidupku. Aku bisa memeluknya, menciumi aroma tubuhnya, menyapukan tanganku dirambutnya. Aku masih mengingat dengan jelas di malam saat dia tidak ingin melepas aku dari pelukannya. Tak seperti disangka mahasiswa lainnya, Pak Wijaya begitu lembut dan hangat memberi perhatian setiap kali kami bersama. Membelikan sepotong kue kecil di hari ulang tahunku, bahkan memasak makanan untuk aku. Hal sederhana tersebut mungkin terdengar biasa, tapi sangatlah indah bagiku. Bagai lentera hati yang menerangi setiap sudut ruangan di hatiku yang sempat mengelam.
            Dan ternyata masa bahagia itu lagi-lagi tak bisa berlangsung lama dalam kisahku. Hubungan yang sempat terjalin sampai satu tahun setelah aku lulus, ternyata tetap memiliki masa kadaluwarsanya sendiri. Sampai detik dimana aku mengetahui bahwa bukan hanya aku yang mengisi hati Pak Wijaya. Saat dimana aku menyadari bahwa dia tidak memiliki niatan untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius denganku. Tidak terlalu melukaiku, karena aku sudah mempersiapkan segenap hatiku jauh sebelum aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan dosenku sendiri. Laki-laki seperti dirinya, tidak mungkin hanya mendekati satu orang wanita saja. Pak Wijaya telah hampir memiliki segalanya, karir, bisnis, rumah dan segalanya. Tapi kesendiriannya hingga di usianya seperti itu membuat aku berpikir dia tidak akan sembarang saja mempercayakan hatinya pada seorang wanita. Dan aku sudah sangat siap dengan luka itu hingga memilih mundur.

            Sampai detik ini, kami masih sesekali berusaha untuk keep in touch. Tidak ada keinginan untuk kembali bersamanya, karena bagiku sekali saja aku dikhianati, tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Aku juga tahu dia kini telah memiliki wanita yang lain yang kini bahagia bersamanya. Dan aku tahu betul bahwa aku tidak boleh sedikitpun menyentuh peluang untuk bisa bertemu dengannya, karena itu hanya akan menyenangkan baginya tapi justru menghancurkan kekuatan hatiku untuk merelakannya. Akhir seharusnya tanpa penyesalan, dan setiap masa yang tersisa jauh lebih berharga dari yang telah habis masanya.

Friday, July 28, 2017

Sajak-sajak


Waktu
Ingin aku menghirupmu dalam-dalam
Merasai detak yang berulang
Seperti pagi dan malam
Yang datangnya mengulang
Kamu yang selalu sama
Dan aku yang menua
Renta kau telan
Terkikis oleh jaman


Bahagiamu
Lihatlah malam ini hujan
Yang dinginnya saja tidak ingin
Aku bagi dengannya
Seperti hatiku,
Aku ingin ia tetap hangat
Karena melihatnya bahagia
adalah dukungan semesta terbesar dalam mencintai


Cinta dan Luka
Malam dan pagi aku benci
Keduanya mengingatkanku
Tentang cinta dan luka
Yang datangnya bersamaan
Semakin mencintai,
Semakin dalam menikmati luka
Hingga keduanya tak lagi miliki batas


Hari Bahagiamu
Hari yang indah
Hujan membuatnya teduh sekali
Dihari bahagiamu, melihatmu bahagia
Adalah kesempurnaan yang sempurna
Aku tidak ingin menjadi angin yang mengusikmu
Akupun bukan api yang gemar melukaimu
Aku hanya ingin menjadi tulisan-tulisan
Yang membuatmu tersenyum
Setiap kali membacanya


Pesan itu
Pesan itu,
Tidak benar-benar singkat
Ada cerita aku dan kamu
Yang terangkai jadi satu kalimat
Aku tahu,
Ada rindu yang terlewat sangat
Tapi maaf cuma bisa jumpaimu
Lewat mimpi sesaat


Tulisan-tulisan
Untukmu yang tak terhapus senja
Kamulah kawan jenuhku
Bunyian hati yang tak ku ucap
Sekumpulan luka yang tak bernadi
Kamu juga rindu yang tak bersuara
Meronta liar dalam aksara
Tanpamu, ragaku getir tak merasa
jiwaku pekat bagai malam
Rapuh tak bernyawa dan kosong


Kekasihku..
Aku ingin seperti udara
selalu ada dimanapun kau berada
Yang sayupnya saja mampu merasaimu
Aku tak mengingat luka
Karena kau mencintaiku begitu banyak
Dan aku hanya merontaimu dengan manja
Aku dan kamu tak perlu bingar
Mereka hanya menatap dengan nanar
Cinta kita yang tak berirama samar


Obrolan Manis
“Adakah kau rindu ?” Tanya kekasihku
“Tidak” Jawabku
Tanyanya lagi: “Tapi mengapa wajahmu mengitari isi kepalaku?
Aku bahkan merasakan detak jantungmu dekat hatiku”
Lalu aku jawab:” Karenanya aku tak merinduimu,
Jarak dan waktu hanya tahu membuat cinta kita sempurna..”

Monday, July 24, 2017

Aku, Hujan dan Bahagia


            Aku memandang pada tingkap-tingkap di langit jendela kamarku, berusaha mencari tahu kapan hujan akan berhenti. Mengapa ia tidak pernah membawa kabar baik untukku, sehingga aku selalu merasa sedih yang berlarut merapuh dibuatnya. Tenggelam pada luka yang terlalu dalam untuk dilupakan. Aku terjaga dari pembaringanku, membuka jendela hanya untuk merasakan angin yang bersayup lirih terbawa hujan. Namun dengan jelas ingatanku tiba-tiba muncul pada sesosok bayangan laki-laki yang selalu membuat aku menjadikan dia orang yang pertama kali aku lihat tiap pagi sebelum memulai hari.
“Halo sayang.. Selamat pagi!” Sebentuk kalimat sederhana dengan senyum dan tatapan yang hangat bahkan suara itu, suara yang tidak akan pernah terlepas dari ingatanku. Suara yang membuat aku enggan mendengar suara yang lain agar hanya suaranya saja yang mengisi pikiranku.
“Aku kangen banget sama kamu, Pras..” Tanpa sadar aku mengatakan kalimat itu dengan suara yang terdera, seakan mengusir sayup angin tadi. Aku benar-benar merindukannya. Rasanya aku tidak mampu menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Keberadaannya yang jauh bertugas didaerah pedalaman Kalimantan membuat aku sulit untuk berkomunikasi dengan Pras, bahkan walau hanya untuk berkabar lewat sms.
Sudah enam bulan lamanya Pras tidak juga menghubungiku. Untuk bisa berkomunikasi dengannya aku harus menunggu Pras ke kota untuk mendapatkan signal, jadi yang bisa aku lakukan hanya menunggu. Bisa dibilang, sejak satu tahun terakhir, kami hanya bisa bicara di telpon dua sampai tiga kali saja. Sempat terlintas dibenakku untuk memutuskan hubunganku dengan Pras, tapi kata-kata Pras sebelum dia bertugas membuat niatku urung. Aku harus mendukungnya, demi masa depan laki-laki yang aku cintai. Tinggal satu tahun tersisa, aku hanya perlu bersabar sedikit lagi sebelum ia kembali ke Jakarta untuk melamarku.
Aku berusaha menguatkan hatiku, membayangkan hal-hal indah yang akan aku jalani bersama dengan Pras dan aku berharap ujian cinta ini akan segera berlalu. Meskipun sesekali pikiran buruk terkadang muncul dengan banyaknya anggapan teman-temanku bahwa banyak orang bertugas atau pergi ke Kalimantan tapi tak kunjung ingat pulang kembali ke rumah asalnya dikarenakan masih banyaknya hal-hal mistis disana. Aku hanya berdoa semoga itu tidak terjadi pada Pras dan hubungan kami. Aku percaya Pras tidak akan mengecewakan aku, aku tahu dari saat aku mempercayakan hatiku untuk dia sepenuhnya dan aku telah memilih dia untuk jadi bapak dari anak-anakku nantinya. Aku percaya Pras akan menepati janjinya untukku, demi cinta kami.
Setibanya di kantor, seperti biasa Tian sudah menyambutku dengan senyumnya yang khas. Hari ini dia terlihat berbeda dengan potongan rambutnya yang dipotong cepak. Terlihat lebih tampan dari biasanya, dengan kemeja biru dan warna dasi yang lebih gelap, dan pastinya dengan wajah orientalnya ditambah aroma parfum yang begitu pas dengan karakternya yang ceria namun tidak terlalu menyengat. Berbeda dengan Pras yang anti sekali dengan parfum, sehingga aku bisa mengingat pekat aroma tubuhnya yang membuat aku selalu rindu untuk berada didekatnya.
“Woii neng, bengong aja.. Ntar malam jadi nggak kita nongkrong bareng anak-anak di Tebet balik kantor?”
“Hm.. Kayaknya kalian aja deh. Aku lagi males banget sumpah, pengen buru-buru pulang, tiduran deh.”
“Ah payah ah.. Ini kan hari Jumat, besok libur puas-puasin deh molor di rumah. Tapi kalau sekarang kita nongkrong sampai puas biar kekinian..”
“Haha.. Ngga deh kalian aja. Macet banget pasti, yang ada nanti aku pulang kemaleman dah.”
“Kalau itu sih tenang aja, nanti aku yang anter kamu pulang dengan selamat ke rumah naik motor butut kesayanganku jadi kita bisa cepet tuh.”
“Ah itu mah emang mau kamu boncengan sama Sela, pakai alasan biar nggak macet segala..” Potong Mba Iway sambil membawa tumpukan dokumen untuk aku periksa.
“Haha.. Mba Iway paling ngerti deh sama perasaan daku..” Tiba-tiba aku dan Mba Iway ikut tertawa mendengar ucapan Tian itu. Sudah lama aku tahu dari teman-teman kantor bahwa Tian menyukaiku, walaupun dia tidak pernah menyatakan itu secara langsung kepadaku,  mungkin karena aku sudah memiliki Pras jadi dia urung untuk mengungkapkannya.
“Tapi benar juga loh Sel, kamu emang harus ikut biar rame. Diantara semuanya yang paling jarang ikut kumpul kita-kita cuma kamu loh jadi malam ini kamun harus ikut, oke?!” Ujar Mba Iway yang terdengar agak memaksaku.
“Nah tuh kan Sel, makanya ikut dong..” Tambah Tian.
“Hm.. Jadi gitu yah.. Baiklah kalau begitu. Tapi bener loh kamu anterin aku pulang ya!”
“Siappp madam.. With all of my heart.” Kembali Tian dengan wajah cerianya yang entah kenapa terlihat sangat manis dan tampan di hari itu membuat aku melupakan kegelisahan yang sedang menggalaui hatiku.
“Nah gitu dong, pasti Anggi dan yang lainnya seneng banget kamu akhirnya bisa ikut nongkrong, Sel.”
“Iya mba.. Haha habisan aku lagi galau banget.”
“Kenapa? Pras belum juga hubungi kamu ya?” Tanya Mba Iway yang sepertinya memperhatikan gelagatku selama ini. Entah kenapa mendengar Mba Iway tiba-tiba mengucap nama Pras, Tian langsung pergi pamit ke ruangannya meninggalkan aku berdua dengan Mba Iway.
“Iya nih mba.. Aku juga bingung, aku hanya khawatir dia kenapa-kenapa disana. Sudah enam bulan lamanya dia belum juga hubungi aku mba..” Jawabku yang tiba-tiba saja kembali merasa sedih, tapi aku berusaha menahan air mataku.
“Kamu yang sabar ya.. Berdoa aja supaya Pras baik-baik aja disana dan segera memberi kabar ke kamu. Kita siap kok ngobatin kesepian dan kegalauan kamu, makanya mulai sekarang kamu jangan sendirian dan harus ikut kita kumpul-kumpul kalau perlu kita kumpul dinner tiap hari. Haha..”
“Haha.. Iya mba siap, thank you ya mba, kalian emang paling bisa deh hibur aku.”

Sepulang dari Tebet ternyata Tian menepati janjinya untuk mengantar aku pulang ke rumah, padahal aku tahu rumahnya jauh di Bekasi dan dia harus mengantar aku dulu ke Depok. Udara dingin sehabis hujan menambah pekatnya malam. Sesekali aku melihat Tian memperhatikanku dari kaca spion. Laki-laki ini sepertinya memang jatuh cinta denganku. Dia selalu tersenyum setiap aku berpapasan melihatnya kearah spion. Tiba-tiba saja hatiku berdegup kencang. Entah merasa risih atau malu, keduanya seperti bercampur. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini lagi. Bahkan ketika aku mengomel agar dia tetap fokus membawa motor, Tian hanya tersenyum dan menenangkanku untuk tidak khawatir. Dia memastikan bahwa dia akan bertanggungjawab atas nyawanya dan siapapun yang bersamanya, hal itu yang membuat dia tetap fokus. Padahal omelanku tersebut hanya untuk mengalihkan perasaan dan jantungku yang berdegup kencang. Aku takut, aku jatuh cinta pada Tian hanya untuk mengaburkan perasaanku yang lelah dalam penantian hubungan jarak jauh yang sangat menyiksaku.
Aku ingat waktu Pras sedang berusaha mendekati aku, dia selalu tenang, bahkan jarang bercakap-cakap saat mengendarai motor. Hanya beberapa kali dia menanyakan aku mengantuk atau tidak. Tapi Tian, hampir sepanjang perjalanan dia tidak berhenti menanyakan apa saja yang menjadi kesukaanku. Apa yang biasa aku lakukan untuk mengisi akhir pekan. Seakan tidak pernah habis pertanyaan yang ingin dia tanyakan padaku. Benar-benar sangat berbanding terbalik dengan Pras. Aku memang menerima cinta Pras saat itu karena aku jatuh cinta dengan pembawaannya yang tenang. Tapi kehadiran Tian, membangkitkan rasa baru yang bergejolak yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Sudah hampir tiga tahun aku mengenal Tian, tapi aku tidak pernah melihatnya bersama wanita. Bahkan sempat aku berpikir dia ini menyukai sesama jenis, tapi hal itu terbantahkan saat ada teman kantorku yang ternyata masih ada hubungan saudara jauh dengan keluarga Tian. Dari dia aku tahu bahwa Tian pernah hampir menikah dengan seorang wanita, namun ternyata wanita tersebut hamil dengan laki-laki lain, karena Tian mengaku tidak pernah menyentuh wanita tersebut untuk menjaga imannya. Akhirnya mereka putus, dan tiga tahun setelah itu Tian tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita dan makin menjadi seorang yang workaholic yang membuatnya tidak terlalu peduli dengan penampilannya. Sampai akhirnya ada seorang teman yang mengatakan bahwa Tian kerapkali memperhatikan aku, bahkan saat aku tidak berada diruangan. Sekalipun Tian sudah tahu kalau aku sudah memiliki kekasih dan akan menikah, sikapnya terhadap aku tidak pernah berubah. Dia selalu menjadi orang pertama yang menyambut kedatanganku masuk ruangan kantor.
Sesampainya di rumah, Mama sudah menanti kedatanganku di depan pintu. Mama mempersilahkan Tian masuk mampir terlebih dulu untuk sekedar minum kopi agar tidak mengantuk di jalan, namun Tian menolaknya dengan halus karena sudah larut untuk bertamu.
“Sela aku pamit ya, nanti aku kabarin kalau sudah sampai rumah.”
            Perkataan Tian tersebut membuatku sedikit kaget karena aku tidak menyangka bahwa Tian tahu aku memang mengharapkan dia mengabariku sesampainya dia di rumah. Lagi-lagi dia masih saja menghujani hatiku dengan rasa yang menyenangkan, yang membuatku seakan jatuh cinta lagi. Lalu bagaimana dengan Pras? Bagaimana dengan cinta dan janji kami? Oh Tuhan.. Aku merasa sangat bersalah terhadap Pras. Aku merasa sangat jahat dan mengkhianati kepercayaan Pras terhadapku. Aku usir jauh-jauh perasaaanku terhadap Tian demi mempertahankan cinta yang lama aku bangun bersama Pras. Aku takut Pras mengalami godaan yang sama disana, jika aku tidak kuat mempertahankan komitmen kami.
            Benar saja Tian menghubungiku sesampainya di rumah, bahkan hendak menelponku bila aku belum tidur. Terpaksa aku tidak membalas pesannya agar dia berpikir bahwa aku sudah tidur. Namun, tanpa disangka esok siangnya Tian datang menemuiku di rumah. Setelah berbincang sedikit dengan Mama dan Papa, Tian meminta ijin untuk mengajak aku jalan. Laki-laki ini seperti tidak ingat kalau wanita yang diajaknya jalan telah memiliki kekasih. Aku hanya kaget dan tersentak saat mama dan papa langsung mengijinkan kami keluar untuk jalan-jalan. Rupanya Tian telah berhasil menghipnotis orangtuaku dengan pesonanya yang membawa energi positif pada siapapun yang berbicara dengannya.
“Kamu kok nggak bilang-bilang kalau mau datang ke rumah? Tanyaku.
“Habis kamu nggak bales-bales BBM dan WA aku sih, jadi aku nekat deh nyamperin.”
“Tapi, aku kan sudah punya pacar, ngapain kamu deketin aku gini?”
“Loh emang aku keliatannya lagi deketin kamu ya?”
“Kalau nggak lagi deketin trus apa dong nih namanya?”
“Yah anggep aja aku lagi bertamu ke rumah teman kantor aku, tul nggak?”
“Yakin kamu nggak lagi deketin aku?”
“Yah terserah kamu ngerasanya gimana?”
“Aku sih ngerasanya kalau kamu lagi deketin aku.”
“Nah yah udah, kan aku bilang terserah kamu ngerasanya gimana.”
“Trus ngapain ngajakin aku jalan, makan siang dan nonton segala?”
“Loh bisa aja kan namanya teman sekantor buat jalan-jalan semacam ini?”
“Kamu ini aneh ya.. Aku nggak mau loh kalau emang kamu tujuannya cuma buat deketin aku, karena aku sudah punya pacar. Kamu kan tahu sendiri tahun depan aku menikah dengan Pras.”
“Iya, iya nggak perlu diperjelas gitu juga kali, aku juga paham kok. Lagipula kalau kamu nggak ada perasaan apa-apa sama aku, kamu nggak perlu berpikiran aneh-aneh dengan sikap aku begini.”
“Iya sih, tapi kan..”
“Tapi apa? Kamu takut ya kalau nantinya kamu jadi suka sama aku?”
“Enak aja kamu ini pede sekali ya haha..” Tiba-tiba saja hatiku kembali berdegup kencang dengan pertanyaan Tian yang membuat aku jadi salah tingkah.
“Nah ya udah, anggep aja aku ini jelek, gigi aku tonggos, hidung aku bengkak, terus janggut aku brewokan biar kamu makin illfeel sama aku.”
“Haha ngakak banget sih jadinya. Aku nggak bisa bayangin kalau kamu tampangnya begitu. Haha kocak..”
“Haha.. Jangankan kamu, aku aja nggak bisa terima kalau kamu sampai bayangin aku kayak gitu.”
“Trus kamu maunya aku bayangin kamu kayak apa?”
“Yah kayak Tian-lah, Tian yang kamu kenal selama ini. Tian yang sayang sama kamu dan nungguin kamu selama tiga tahun.”
“Hah?? Maksud kamu apa? Tuh kan kamu suka sama aku?”
“Haha.. Aku salah ngomong ya? Ya sudah lupain aja, yang penting kamu fokus dengan hubungan kamu dan pacar kamu itu. Aku cuma bisa ngarepin kamu bisa bahagia sama dia. Jujur, aku nggak ada niat untuk ngerusak hubungan kalian karena sudah pernah ngalemin rasanya dikhianati. So, aku dukung hubungan kamu agar kamu bisa bahagia, oke?!”
Oh my God aku baru sadar ternyata Tian menyukaiku sejak tiga tahun lalu, sejak dia putus dengan calon istrinya itu. Tian sangat pintar menutupi perasaannya sampai-sampai aku tidak pernah menyadarinya. Atau mungkin aku memang tidak pernah peduli, karena aku terlalu fokus untuk menjaga komitmen hubunganku dengan Pras. Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri, aku merasa bahagia dengan pengakuan Tian yang ternyata menyukaiku sejak lama. Tapi, sekaligus aku merasa khawatir dengan perasaanku sendiri, aku tahu, aku mulai jatuh cinta dengan Tian. Dan perasaan itu membuat aku takut.
Sejak saat pengakuan Tian tersebut, dia tidak pernah lagi mengirim pesan singkat kepadaku lewat BBM ataupun WhatsApp. Sepertinya Tian benar-benar ingin aku menjaga komitmenku dengan Pras, tapi seharusnya kan dia tidak usah mendatangiku dengan pesonanya yang hangat dan manis. Sesekali aku mencari tahu keberadaannya di ruangannya. Saat dia, seperti biasa tidak pernah terlihat santai dalam pekerjaannya. Namun dia tidak menghilangkan kebiasaannya yang mengajak aku makan siang bersama. Sekalipun dihadapan teman-teman kantor lainnya dia terlihat biasa, tapi dia tidak bisa membohongiku dengan tatapannya yang sesekali melirik ke arahku. Aku bahagia setiap kali dia melihat ke arahku, aku bahagia setiap kali tangannya secara tidak sengaja bersentuhan dengan tanganku. Aku bahagia dengan hari-hari yang aku lalui selama di kantor, karena aku bisa memiliki waktu untuk sekedar melihat wajahnya dan mendengar suaranya tertawa.
Sudah satu minggu berlalu, Tian tidak menghubungiku. Bahkan aku melihat handphone ditanganku hanya sekedar menunggu Tian menghubungiku dengan kata-kata yang seasalnya. Aku ingat, Tian pernah mengirimiku pesan singkat yang isinya hanya menanyakan kabar mama dan papa. Atau mungkin pesan yang memberitahuku bahwa dia sedang terjebak macet sampai rasanya ingin berbalik arah menuju rumahku saja. Bahkan kalimat penyesalan, yang menyatakan bahwa dia ingin mengantar aku pulang tapi takut hubunganku dengan Pras jadi berantakan karenanya. Oh aku benar-benar sudah jatuh cinta dengan laki-laki itu, sampai-sampai kabar Pras tidak lagi aku tunggu-tunggu melainkan hanya kabar dari dia saja. Disatu sisi aku merasa bersalah pada Pras, namun disisi yang lain, aku menikmati semua masa-masa aku bisa melihat dan berbicara dengannya.
Hatiku merasa bahagia, tapi entah kenapa hari itu turun hujan dengan derasnya. Selama ini, hujan selalu mewakili perasaanku, tapi kali ini seakan dia tidak turut membaur dengan kebahagiaan yang aku rasakan. Untung saja hari ini hari Sabtu jadi aku tidak perlu memusingkan berangkat kantor. Aku hanya berbaring di kamar, sambil melihat foto di galeri handphone. Aku melihat wajah Pras, tiba-tiba saja hatiku merasa sedih seakan dia telah menghilang untuk selamanya dari hidupku. Ku ukir wajahnya dalam-dalam, berusaha mengumpulkan segenap kekuatan untuk mengingat kembali kenangan bersamanya dan janjinya. Hanya sekedar untuk membuatku bertahan pada cintaku terhadap Pras dan membuang semua kekhawatiran dan pikiran negatif lainnya.
Sementara di luar ternyata sudah ada mobil yang parkir di depan gerbang, aku bergegas ke luar kamar karena aku tahu itu mobil Pras. Hatiku berdebar kencang dan bertanya-tanya mengapa Pras tidak menghubungiku kalau sudah sampai Jakarta. Benar saja, saat aku tiba di ruang tamu aku melihat Pras dan kedua orangtuanya sedang berbincang dengan orangtuaku.
“Ma, Pa.. Kok nggak kasih tahu Sela kalau Pras datang? Pras, kamu kok nggak bilang-bilang sama aku sih kalau sudah sampai Jakarta? Om, Tante disini juga..?” Tanyaku dengan nada penuh penasaran bercampur kecewa dan bahagia yang menjadi satu. Sementara mereka hanya saling berpandangan satu sama lain.
“Sela, maafkan aku..” Jawab Pras seraya menghampiriku. Aku langsung memeluknya dan airmataku tiba-tiba saja keluar tak mampu membendung rasa rinduku. Tapi Pras perlahan melepas pelukanku dari tubuhnya.
“Yuk kita duduk, ada yang aku dan orangtuaku mau sampaikan ke kamu.”
“Om Nathan, Tante Risa.. Ma, Pa ada apa sebenarnya?”
“Biar Pras dan orangtuannya yang menyampaikan sendiri ke kamu, nak, kamu tenang dulu..” Jawab Mama yang makin membuat aku takut.
“Hm.. Anu, begini nak Sela.. Saya sebagai orangtua mewakili Pras berkunjung kemari untuk menyampaikan permintaan maaf kami ke nak Sela dan keluarga.” Jawab Om Nathan dengan ragu-ragu berusaha menjelaskan. Aku semakin takut, tapi seperti pesan Mama, aku harus tetap berusaha tenang.
“Minta maaf? Minta maaf untuk apa ya Om? Tanyaku penasaran.
“Maafkan aku, Sela.. Aku membatalkan maksud untuk menikahi kamu.” Jawaban Pras membuat aku tersentak dan perasaanku tak menentu, hancur berkeping-keping.
“Ma maksud kamu gimana Pras? Aku nggak ngerti!”
“Aku sudah menikah dengan orang Kalimantan sejak tiga bulan yang lalu. Aku ingin mengabarkan ke kamu tapi signal disana sangat buruk. Aku bahkan tidak sempat memberitahu kedua orangtuaku.”
“Apa?? Kamu jangan becanda deh Pras? Aku nggak suka loh kamu giniin aku. Kamu sudah janji tahun depan buat nikahin aku, Pras. Apa kamu nggak ingat..?” Seruku sambil berusaha meraih tangan Pras, dan airmataku mulai turun dengan deras tak terbendung lagi. Aku merasa hancur dan tidak lagi bisa berpikir dengan jernih.
“Maafkan aku, Sel..”
“Begini nak Sela, kami juga kaget saat Pras tiba-tiba datang kemarin sore dan langsung memberitahukan ini semua pada kami. Kami marah dan kecewa, sekaligus merasa sangat bersalah. Akhirnya saya menyuruh Pras untuk datang bersama-sama menemui kamu dan keluarga untuk meminta maaf secara pribadi. Tidak menghadiri pernikahan anak sendiri sangat membuat saya hancur dan marah, apalagi harus melihat nak Sela dan keluarga dikecewakan seperti ini oleh Pras. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, nasi sudah jadi bubur, untuk memisahkan Pras dan istrinya juga sudah tidak mungkin, karena istrinya kini tengah mengandung cucu kami.” Terang Om Nathan sambil sesekali tertunduk dan sesekali melihat ke arah Pras. Terlihat kekecewaan sekaligus kerapuhan diwajah Om Nathan dan Tante Risa yang langsung menggenggam tanganku.
“Tega banget ya kamu sama aku, Pras.. Aku berusaha menjaga pikiran aku dari pikiran buruk tentang kamu yang tidak pernah menghubungi aku. Aku bertahan demi kamu, demi cinta kita, demi mimpi kita Pras, apa kamu lupa??” Wajahku memerah padam, tanganku gemetar seakan sedang mengalami mimpi yang sangat buruk. Mama langsung memelukku lagi, aku melihatnya turut menangis karena melihatku.
“Maafin aku, Sela.. Aku benar-benar menyesal aku tidak tahu harus berkata apa lagi ke kamu. Aku cuma bisa bilang maaf sama kamu, Om dan Tante. Semoga kamu bisa bahagia sekalipun bukan sama aku.”
“Sebaiknya kalian pulang saja, biarkan Sela menenangkan diri. Saya mewakili keluarga sudah memaafkan kamu, Pras. Selamat ya untuk pernikahan kamu. Semoga kalian sekeluarga bahagia dan selalu sehat.” Jawab Papa dengan lembut dan berusaha setenang mungkin.
“Pa.. Tapi Pras pa..”
“Iya, Papa ngerti, tapi ya sudah ikhlaskan saja nak.. Biarkan Pras bahagia dan tenang menjalani pernikahannya dengan istrinya.”

Friday, July 21, 2017

Diary Fiktif, 220717


Aku tidak bisa menghindari saat-saat dimana kegelisahan itu datang lagi. Aku tidak bisa berhenti memikirkan takdirku. Aku menyadari, Heru bukanlah takdirku. Aku tahu Koko Gun tidak akan pernah menjadi takdirku. Bahkan, aku juga tahu, Sandi-pun tidak diciptakan untuk takdirku. Tidak satupun diantara mereka yang akan menjadi pilihan terakhirku. Dan untuk membayangkannya saja aku tidak pernah punya nyali memiliki mereka dalam hidupku. Dunia terasa gelap, suram dan memudar. Mimpi-mimpiku semakin pupus tergerus oleh waktu. Aku benar-benar kehilangan arah, kehilangan keinginan untuk memimpikan bagaimana rasanya menikmati bahagia. Meredup bagai senja yang mengelam, putus asa dan menyerah pada malam.
Sejak enam tahun yang lalu, aku berpikir tentang pernikahan. Pernikahan yang akan aku jalani bersama dengan tunanganku diusiaku ke 27 tahun, laki-laki yang aku percayai untuk mendampingi dan menua bersamaku. Aku mencintainya setengah mati, hingga rasanya aku benar-benar ingin mati saja saat nyatanya aku harus kehilangan dia untuk selamanya. Aku kehilangan harapan, aku hancur dan habis akal. Seperti pecundang yang tidak layak untuk dicintai. Namun, sesekali aku mempercayai, bahwa suatu hari nanti aku akan  menjadi seorang istri sekaligus ibu yang paling bahagia didunia ini.
Aku menghiasi peraduan malamku dengan doa-doa penuh luka yang mengelu. Menyampaikan banyak kerinduan seakan tidak ada satupun yang bersedia mendengarkanku kecuali Sang Penciptaku. Aku memohon pelukan Tuhan untuk meneduhkan tangisanku. Aku lemah dan tak berdaya, bertubi menyampaikan hal-hal yang tak pernah bisa tersampaikan pada orang yang lain. Aku hanya menyimpannya dalam-dalam dihatiku yang tak bernyali, karena aku sadar betul hanya Tuhan yang berkenan mendengarkan ungkapan yang tak bersuara sekalipun.
Bertanya dalam hatiku, sampai kapan aku berduka berlarut-larut? Aku belum juga bisa melupakan janji indah yang tersemai antara aku dan Heru. Aku tahu dia telah berubah, dia tidak lagi orang yang sama yang pernah sangat mencintaiku. Dia kini telah bersama dengan wanita yang lain dan telah benar-benar menghapus aku dari memori terdalamnya. Aku menangis tanpa henti. Merasai hati yang terluka, jiwa yang tertekan tanpa bisa aku kendalikan. Ujian terberat dalam kehilangan adalah saat aku harus melepaskan dia dari genggamanku dan juga hatiku. Aku yang tak pernah bisa berhenti satu detikpun mencintainya. Aku tahu terlalu mudah baginya untuk melupakanku, karena aku tidak pernah bisa mencintainya sebanyak cinta yang dia berikan kepadaku.
Bertanya lagi aku dalam hening dan kesepian yang bisu, berdosakah aku jika aku ingin memilih takdirku sendiri? Aku baru menyadari sakit rasanya diabaikan, dipermainkan oleh takdir yang memilih menyerah sebelum termiliki. Bahkan pekatnya malam, tidak pernah sepekat dukaku karena kehilangan untuk kesekian kalinya dalam hidupku. Aku benar-benar muak dengan diriku dan semua kebodohanku yang masih saja tidak bisa beranjak karena tertahan di masa lalu, mengangankan diri ini terlelap dalam teduh pelukannya. Aku bosan karena tidak pernah habis cerita untuk menceritakan betapa besarnya rasa bahagia yang aku impikan untuk hidup bersamanya. Seakan telah habis perasaan ini terkikis dan lelah untuk jatuh cinta, lagi.. Aku ingin mengubur dalam-dalam semua tentang dia dan kenangan masa lalu, dan belajar untuk membencinya. Namun, membenci bagiku sama sulitnya dengan jatuh cinta.
Sekali saja dan untuk terakhir kalinya, aku ingin merasai cinta yang sejati, yang tidak perlu bercampur luka karena tidak diijinkan untuk saling memiliki, melainkan saling membagi bahagia dan apapun itu untuk bertahan karena cinta. Merasai rasanya cinta yang hangat setiap harinya hingga raga saling merenta. Seperti bulan yang setia pada malam, yang tidak pernah menyerah untuk bertahan dan membagi sinarnya, begitulah aku ingin merasai cinta. Yang sekalipun hujan, tetap dinginnya saja tidak ingin aku bagi dengannya. Seperti hatiku, aku ingin ia tetap hangat. Karena melihatnya bahagia bagiku adalah dukungan semesta yang paling sempurna dalam mencintai. Sekalipun aku diijinkan memilih takdirku sendiri, aku tetap meyakini bahwa Tuhan, Sang Penciptaku itu paling tahu yang terbaik untukku. Dan aku harus tetap hidup, tetap menyediakan hati yang baru, tetap menjalani proses sampai saat yang tepat itu datang dan takdir menemuiku dengan restu-Nya.

Aku, sesungguhnya tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Aku tahu aku juga boleh meminta hak yang sama untuk memiliki kawan hidup yang akan melengkapi sisi kosongku. Hidup memang masih harus tetap berjalan. Sekalipun aku tidak bisa memiliki masa lalu, tidak lagi raganya menyentuhku, tidak lagi bisa mendengar bisik cintanya, dan tidak akan lagi memiliki gambar dirinya, aku masih punya kesempatan untuk menjalani masa depan. Masa lalu bersama kenangannya, harapanku, Tuhan mengambil ingatanku tentang dia, tentang semua janji-janji hidup bersama. Melepaskan apa yang telah terlepas dari genggamanku dan berhenti memintanya kembali.

Monday, May 1, 2017

Pendidikan dan Kebudayaan untuk Revolusi Karakter Bangsa dan Kebhinekaan

Pendidikan Dan Kebudayaan Untuk Revolusi Karakter Bangsa Dan Kebhinekaan


            Secara garis besar, pendidikan merupakan proses pembelajaran akan aneka ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh melalui lembaga formal maupun informal. Lembaga formal yaitu melalui pendidikan formal yang diperoleh secara sistematis dan berjenjang, yaitu dari tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi. Sedangkan pendidikan yang didapat secara informal bisa saja diperoleh dari pelatihan, kursus, lingkungan keluarga ataupun secara otodidak yang salah satunya dapat diperoleh berdasarkan pengalaman hidup. Pendidikan di Indonesia sudah menjadi hal yang krusial sejak masa penjajahan. Dimana dalam perkembangannya, Indonesia telah sangat berani mensejajarkan pendidikan kolonial dengan didirikannya sekolah bersistem nasional yang diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya digagas oleh Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, yaitu sekolah nasional Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1922.
            Bangsa Indonesia sejak dulu kala memegang teguh bahwa pendidikan pada hakikatnya tidak boleh lepas dari aspek nilai-nilai kebudayaan. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pendidikan telah merupakan satu kesatuan yang utuh dengan budaya bangsa, yang diharapkan mampu mewujudnyatakan cerminan masyarakat yang berkepribadian beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan. Dengan kata lain, pendidikan sebagai alat transfer pengetahuan haruslah mampu memberdayakan atau melestarikan budaya nasional karena di dalamnya terdapat nilai moral yang mengacu pada ideologi (pandangan hidup) dan cita-cita bangsa dalam mempertahankan kedaulatan. Pada proses pembangunan di Indonesia, pendidikan terus mengalami perubahan (transformasi) seiring dengan perkembangan budaya, yang diharapkan dapat mengacu pada hal yang positif yang pastinya ke arah yang lebih baik.
            Proses transformasi struktural yang terus berevolusi di Indonesia salah satunya  melalui saluran pendidikan yang merupakan motor penggerak utama dalam proses pembangunan ekonomi. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah orang yang berpendidikan tinggi sehingga memungkinkan mendapatkan pendapatan yang lebih baik. Selain itu, dengan adanya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan yang banyak diusahakan oleh pemerintah dewasa ini yaitu diantaranya dengan memperluas sarana pelatihan keterampilan, baik secara teknis maupun nonteknis (softskils) dalam rangka pengembangan karakter untuk membangun perilaku individu yang tepat (disiplin, kerjasama, kepemimpinan, kemandirian, dan lain sebagainya), maka otomatis akan meningkatkan pula struktur kebudayaan nasional. Terlebih lagi dengan kenyataan adanya peningkatan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat tiap tahunnya, jika tidak diiringi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), maka Indonesia dipastikan akan semakin mengalami kemiskinan, tingkat pengangguran yang tinggi dan adanya ketimpangan pendapatan.
            Pemerataan pembangunan untuk pengentasan kemiskinan yang sedang digalakkan pemerintah melalui saluran pendidikan, diantaranya pemerintah berusaha memberikan akomodasi bagi masyarakat baik perkotaan maupun daerah pedalaman untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya perbaikan dan penambahan gedung sekolah, bahkan pemerintah mengusahakan masyakarat yang tidak mampu untuk juga dapat memperoleh kebutuhan pendidikan yang merata secara gratis. Hal ini diupayakan pemerintah untuk memasuki globalisasi yang semakin berkembang dan mempersiapkan generasi muda untuk dapat bersaing secara internasional. Kemajuan pendidikan Indonesia juga dapat kita lihat dari banyaknya sekolah-sekolah yang bertaraf internasional. Dengan kata lain, Indonesia mulai semakin terbuka dengan informasi ataupun pengetahuan baru yang berasal dari luar, sehingga mau tidak mau Indonesia juga turut mengalami transfer budaya. Adanya transfer budaya dalam hal ini mengakibatkan masuknya pengaruh budaya asing merupakan hal yang cukup dilematis bagi Indonesia. Di satu sisi, adanya transfer budaya akan menambah pengetahuan yang lebih ‘memodernisasi’ atau memajukan masyarakat, namun di sisi yang lain, hal ini juga dikhawatirkan dapat mengaburkan idealis budaya nasional yang menjadi karakter bangsa.
            Perkembangan budaya nasional yang saling berhubungan dengan pendidikan memang sudah seharusnya mendapat perhatian lebih dari masyarakat, baik pemerintah maupun kita sebagai warga negara Indonesia. Pendidikan yang mencerminkan budaya bangsa harus mampu menumbuhkembangkan potensi-potensi yang sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat. Sehingga, revolusi karakter yang terbentuk merupakan karakter pemersatu yang semakin cinta akan tanah air dan memiliki semangat serta tujuan yang semata-mata untuk kemajuan pembangunan bangsa. Sekalipun semakin meluasnya pengaruh globalisasi, kita harus tetap memiliki kesadaran penuh untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang sudah susah payah diperjuangkan oleh nenek moyang kita sejak jaman perjuangan kemerdekaan. Indonesia jangan sampai ‘kebablasan’ dalam menerima transfer budaya dari asing yang masuk melalui pengetahuan pendidikan yang dapat mengkontaminasi secara negatif karakter bangsa, apalagi yang dapat memecah-belah keragaman Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Karena pada dasarnya kitalah yang harus menguasai globalisasi bukan globalisasi yang menguasai kita. Artinya, pengaruh globalisasi harus tetap di bawah kendali kita sebagai bangsa yang memiliki ideologi dan bermartabat yang mencerminkan Pancasila sebagai dasar negara.

Monday, 010517

       Menghabiskan waktu seharian dengan menulis sambil minum teh adalah hal yang menyenangkan  bagiku. Dalam kesendirianku, aku terbiasa bermain-main dengan pikiranku, memikirkan banyak hal sampai mengkhayalkan mimpi terbesarku. Sebuah mimpi yang mungkin terlihat mustahil, namun sangatlah indah. Aku membayangkan diriku saat aku menerima pengakuan dari banyak orang atas karyaku. Membayangkan banyaknya manfaat dan nilai positif yang dapat aku hasilkan dari hidupku untuk orang lain. Membayangkan tulisan-tulisanku akan tetap dibaca dan dikenang banyak orang sekalipun ragaku telah merenta bahkan mati. Membayangkan aku bisa memuaskan hasratku untuk membangun rumah yang indah untuk aku dan orangtuaku. Membayangkan aku dapat membangun bisnis keluarga sendiri, sehingga adik-adikku, kakakku, kami semua tidak perlu lagi merasakan luntang-lantung dan berpencar merantau hanya untuk mencukupi biaya hidup. Membayangkan aku bisa membahagiakan orangtuaku, sehingga mama tidak perlu lagi berambisi untuk keluar dari kesusahan yang menghantuinya sejak kecil, dan papa, tidak perlu lagi bersusah untuk berjerih payah mengurusi warung kecil kami yang penghasilannya hanya cukup untuk makan mereka sehari-hari. Membayangkan, aku bisa membawa serta keluarga besarku untuk berkunjung ke Holy Land. Waw luar biasa, bukan..?! Bagiku atau mungkin bagi banyak orang, ini adalah khayalan terindah. Dan aku rela membiarkan otakku bekerja seharian terlena untuk mencari tahu bagaimana tahap demi tahap sehingga aku bisa dekat dengan mimpi-mimpi terindahku itu.
            Di penghujung hari aku membenamkan lamunanku. Kadang aku menitikkan air mata, kadang juga aku tertawa sendiri. Apakah mimpi ini terlalu tinggi untuk aku raih bagi seorang aku yang tidak terlalu pandai dan tidak memiliki pengetahuan yang banyak dalam menulis? Aku menulis hanya untuk menyenangkan hari-hariku yang sepi. Menulis bagiku teman bicara yang paling efektif dalam mengusir kesadaranku akan rasa sepi yang menjangkitiku bertahun-tahun. Bahkan aku sendiri ragu akankah ada orang yang dengan setia mendengarkan ceritaku, membaca tulisanku yang datar. Dulu.. Sangat dulu sekali, ada seseorang yang aku selalu ingat akan setia mendengarkanku tanpa peduli isi cerita itu tentang marahku, sedihku, bahagiaku, ataupun kekhawatiranku. Seseorang yang membuat hatiku tak bisa lagi mencintai orang yang lain. Seseorang yang saat ini aku yakini telah terhenti mendengarkan aku. Seseorang, yang bahkan wajahnya saja tidak pernah lagi mengisi galeri di telepon selulerku, tapi tidak pernah ranum dalam ingatanku yang perlahan menua. Seseorang yang mungkin saat ini sedang sibuk mendengarkan cerita wanita yang lain. Ah.., berulangkali aku menasihati hati dan pikiranku untuk tidak memikirkannya. Tapi, bukankah kebodohan itu sesekali datang bukan berarti aku masih tidak menerima takdirku untuk terpisah darinya?!
            Perjalanan hidup ini memang tidak pernah mudah bagiku. Aku tidak bisa menyalahkan orangtuaku yang menaruh harapan sepenuhnya kepadaku, sekalipun aku bukanlah anak pertama. Sekalipun, tak bisa dipungkiri, kita akan selalu bertemu ‘badai’ sesekali bahkan bersekian kali. Kelamaan, aku menertawai semesta yang selalu mudah ditebak karena mengijinkan semuanya itu. Seakan bicara pada diriku bahwa aku perlu sering-sering mempelajari proses agar terbiasa tetap tenang dalam melalui segala kemungkinan pergumulan yang datangnya kadang mendadak. Hidup memang tidak selalu tentang hal-hal yang indah. Dalam kegelisahanku, aku sering menangis, merasai kerapuhanku. Tidak ada satupun orang yang tahu dan dapat memahaminya. Sayangnya pula, tak satupun diantara orang terdekatku yang memberikanku dukungan manis dengan berkata : “Jangan sedih, kamu pasti bisa melewatinya. Aku selalu dukung kamu dalam doa. Kamu harus tetap kuat yah..”. Kalimat yang biasa aku sampaikan pada mereka dalam menunjukkan empatiku, tapi sebaliknya tak pernah aku dengar dari mereka. Hal yang menjadikanku pribadi yang tertutup, menyimpan semua masalahku dalam-dalam sambil berusaha tetap tersenyum. Itulah sebabnya terkadang aku benci dunia luar dengan segala keegoisannya, tapi terlampau sering merindui eforia alam yang bertawa lepas, mengenyahkan pekat. Hingga aku menyadari, cinta yang diberikan mereka bukan seperti itu, sekalipun aku memahami mereka mencintai aku, aku tidak perlu mengharap orang lain berbuat hal yang sama dengan apa yang aku lakukan. Karena aku tahu, cara orang dalam mencintai itu berbeda.
            Kehilangan orang yang kita cintai memang hal yang paling menyakitkan dalam hidup. Beruntunnya aku ditinggalkan, kadang membuat aku didera kesepian yang kepahitannya melebihi maut (hal yang aku sampaikan dalam tulisanku berjudul “sepi”). Tapi mimpi besarku tadi selalu jadi  penghiburku untuk bertahan. Aku masih memiliki keluarga dan teman-teman. Dan yang paling penting, aku masih memiliki Tuhan. Aku masih memiliki banyak harapan dan cinta. Aku percaya, entah bagaimana, aku akan memiliki hidup yang lebih bernilai bagi orang lain, setidaknya aku bisa didengar walau mungkin hanya oleh satu orang dalam hidupku. Aku percaya, suatu saat nanti aku pasti bisa meraih mimpiku. Aku ingat, Miss Merry Riana dalam buku berjudul Langkah Sejuta Suluh didalamnya terdapat kalimat : apabila kita mengatakan “bisa”, itu sudah membawa kita pada 50% pencapaian keberhasilan kita. Yang penting aku harus mengerahkan semua kemampuan dan tekadku untuk terus belajar dan tidak menyerah. Hard work always pays off!

Sunday Diary, 280118

Dear Diary.. Tiba-tiba saja koko menghubungiku lagi. Entah harus senang atau tidak, yang jelas perasaanku mulai datar. Bahkan aku memutusk...